See myblog

Another Language

Thursday, July 19, 2018

Bahagianya berlari

Tapi aku tahu semangat adalah awal dari langkahku untuk berani memulai.

Aku masih ingat pertama kali aku berlari karena aku suka pegel-pegel dan susah menemukan olahraga lain. Sebelumnya aku sempat rutin berenang. Lari adalah olahraga paling mudah yang aku tahu karena selain olahraga ini ga butuh alat apapun, lari bisa dilakukan di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja, termasuk lari sendirian.

Sekitar 2016 akhir pertama kalinya aku lari saat kantorku masih di PIK. Karena susah kendaraan, aku pun naik mobil dan setiap sore selagi sempat aku mampir lari di Ancol. Sejak itu aku suka lari.

Tetapi lariku masih berantakan, sepatuku masih sepatu sneakers sembarangan yang flat, bukan buat lari tentu aja. Aku pernah muterin Monas di luar parkiran gantian karena Monas ditutup, ini pertama kalinya aku bertekad beli sepatu lari.

Di kantor aku berkerja ada yang juga suka lari, aku panggil abang. Abang salah satu penyemangatku berlari, sabar membantu aku pilih sepatu yang bagus dan juga ga terlalu mahal. Kadang abang membangunkanku kalau aku ingin lari pagi-pagi. Salah satu panutanku, Tha Tukul Saka Niat, semua dimulai dari niat lalu berlarilah.

Aku biasanya memang lari sendirian. Karena abang ada di Jogjakarta, kami hanya sering melihat track lari kami dari aplikasi semacam NRC atau Strava. Aku pun dibulan Juni 2017 (lupa lupa inget) punya sepatu baru NB, hitam warnanya, ganteng dan aku suka. Aku masih senang berlari sampai aku pindah kantor ke Tomang. Di Tomang karena ga begitu jauh dari rumah, aku biasa bangun pagi lalu lari sebentar di dekat komplek rumah, lalu mandi dan bersiap ke kantor.

Aku tetap rutin berlari sampai pertama kalinya aku ikutan Running for Charity, 5K pertamaku di bulan November 2017. Bukan perjuangan yang mudah karena sebulan lebih mendekati tanggalnya, kakiku sakit tanpa aku tahu penyebabnya. Kalau di ajak jalan saja sakit, apalagi naik tangga. Memang aku bandel dan ga tahan kalo ga lari lama-lama, aku tetap berlari dan sakitnya makin menjadi. Setelah pergi ke tukang urut yang tanpa tanya sakitnya di mana dan kenapa dan mama bayar sukarela, aku ga percaya lagi sama tukang urut (haha), bukan itu intinya, aku akhirnya cari fisioterapi dekat kantorku. Kantorku sudah di Kebayoran, kami pindah di bulan Oktober. Mulailah jadi rutinitas aku ke fisioterapi di daerah Kebayoran setiap hari Rabu.

Kata masnya, kakiku flat, ini yang menyebabkan kakiku cepat capek. Ga ada arch nya, cara napakku salah dan begitu pula dengan berlari. Apalagi lingkungan aku berlari, medannya trotoar dan jalan raya. Pemanasanku cepat-cepat, pendinginan seadanya. Jadilah...aku harus fisio selama hampir sebulan. Puji Tuhan, aku diperbolehkan lari mendekati event lari itu dan berjalan dengan cukup lancar walaupun agak kaku di awal. 

Mendekati akhir tahun 2017, saat aku berlari di dekat rumah, aku terpeleset pasir, padahal baru saja 5 menit aku berlari, kaki kiriku keseleo lagi. Tapi karena aku ga rela untuk berhenti lari di saat udah berhasil bangun pagi, aku tetap lanjut berlari di ruteku yang biasa. Sampai di pintu rel kereta api menuju rumah, kereta lewat aku harus berhenti. Di saat itulah aku tahu kakiku sangat sakit. Aku jalan terseok-seok, duduk di trotoar pinggir jalan. Aku masih ingat ucapan kakakku, 'Cari olahraga lain aja kalo kamu keseleo terus pas lari,' saat dia melihat kaki kiriku bengkak. Aku lupa satu hal, berdoa minta perlindungan Tuhan sebelum berlari.

Kembali ke fisio, ke ruangan penuh kaca dengan alat bola, tangga, sretcher, timer, obrolan masnya, milo hangat. Hampir sebulan aku ke sana dan setelah agak lebih baik, aku akhirnya sudah dapat kembali berlari.

Sejak kantorku di daerah Selatan, aku mulai mencari tempat lari yang enak yang searah aku pulang. Kebetulan abang yang kuceritakan tadi sudah ikut komunitas lari, katanya lari rame-rame lebih enak (setuju), aku di sarankan ikut juga latihan rutinnya di Gor Soemantri. Singkat kata aku ga ikutan training dan join komunitas lari manapun. Aku hanya berlatih dua kali setiap minggu, Gor di weekday dan akhir pekan entah di mana saja.

Lalu tiba saatnya, Minggu nanti aku akan mengikuti Half Maraton pertamaku di Bandung. Dengan catatan, aku baru pernah sekali lari terjauh 16 KM, sekitar 4 kali 10 KM. Mungkin aku belum siap, tapi siap itu sampai kapan? Salah satu keinginanku berlari di HM, selesai dengan baik sebelum cut off time, lalu yang penting pakai sepatu pertamaku, si NB itu (yang sebetulnya hanya cocok dipakai lari maksimal 10 km, bukan untuk long run). Kantorku mensupport kegiatan outdoor ini, jadi abang dan aku akan berlari pakai baju bertuliskan perusahaan dengan bagian dari KH runners. Aku senang banget, ga nyangka ada bantuan dan support semacam ini. 

Menjelang race (sekarang ini), aku sempat sakit dan ga enak badan. Agak kecapekan dan mungkin aku jadi kebanyakan mikir, aku sanggup atau ga, karena pelari harus punya mental kuat selain fisik harus kuat.

Aku teringat banyak wajah wajah orang terdekat yang menyemangatiku, yang mendukungku, yang menemani aku berlari, orang random yang aku temui di GOR, mas fisioterapi, terlalu banyak...terima kasih. Untuk seseorang yang kembali mengingatkan aku betapa aku menyukai lari. Ia selalu mengingatkanku untuk menikmati setiap proses dari perjalananku. Terima kasih.

Mudah mudahan aku siap berlari, finish adalah bonus dan hadiah dari Tuhan. 

Wednesday, July 18, 2018

Senja di penghujung

Senja terburu-buru pulang di saat matahari belum ingin tidur. Terperangkap oleh rasa takut dan pintanya dalam doa untuk tetap mendoakanmu. Menyisihkan waktunya untuk malam hingga malam tahu kepada siapa aku bisa berkeluh kesah dan menangis dipundakmu.

Pelukan senja tidak pernah melukaiku, tidak pernah melukaimu, tapi tanpa sengaja sering melukai kita. Di dalam senja aku tahu jalan menuju rumah, aku tahu bagaimana menemukanmu. Senja di manapun, saat aku menutup jendelaku atau saat ku berlari keluar. Saat aku mencaci maki dan berteriak kegirangan.

Ada senja di kala hening, ada senja di kala ribuan kaki berdesakan. Jika bagimu senja adalah hidup, bagiku senja adalah anugrah. Senja cerita yang sama-sama menghantui kita.

Di bawah langit yang sama, apalagi yang lebih indah dari menonton matahari gugur menuju bumi yang di atasnya kita pijak dengan teguh?

Tuesday, July 17, 2018

Mendefinisi

Ada beberapa cara menunjukan kasih.

Aku tahu melalui pengorbanan. Seperti seorang Ibu yang rela bangun pagi masak bagi keluarganya. Melalui waktunya, duduk bercerita, pertanyaan-pertanyaan seperti apa kabarmu, bagaimana harimu sampai pertanyaan tidak penting seperti pilih hujan atau terik dan laut atau gunung.

Aku tahu melalui tatapan mata sepasang cinta. Seperti tes di toko kaca mata. Tentang ketidaktahuan, kelemahan, semangat dan kesabarannya walau terkadang mataku buram terkena air mata. 

Aku tahu melalui waktu. Seperti cahaya yang berpendar searah jarum jam. Ada masa lalu, ada masa kini dan kasih mengajarkan untuk berpisah sementara supaya bisa bersama-sama. 

Apa kasih menurutmu?

Jam pulang

Hiruk pikuk. Bunyi klakson kendaraan. Malam terlalu bising. Lampu kota berkelap kelip mengalahkan terangnya bintang.

Kota selalu sibuk. Asap kendaraan teman bernapas, angin malam teman jaket tebalku. Jam pulang padat memburu waktu.

Santai saja. Pelan-pelan berjalan. Pelan-pelan berbicara supaya tidak salah paham. Pelan-pelan mengungkapkan supaya tidak saling menyakiti. Pelan-pelan menikmati waktu. Waktu bermain, waktu pulang, waktu berkerja, waktu beristirahat. Waktu bertanya dan waktu menjawab. 

Aku suka keramaian tetapi duduk menyepi tidak pernah aku benci. Aku suka senja tapi malam tidak pernah aku caci maki. Aku suka manusia dengan caranya, kisahnya, rasanya, pikirannya tetapi pertemuan tidak pernah aku sudahi.

Duduk dulu di tengah keramaian kota sehingga bunyi detak jantungmu terdengar, siulanmu bernyanyi dan hatiku menari.