See myblog

Another Language

Friday, February 16, 2018

Rindu

Rindu.

Seperti haus di tengah laut, tapi tidak bisa mencicipi airnya.

Seperti tanah gersang yang menanti hujan datang,
ia rajin berharap ada air yang membasahi tubuhnya,
bau tanah yang bercampur dengan tanah.

Seperti kata yang kabur yang entah harus dimulai dari mana.

Seperti sebuah tanda tanya atas sebuah pengharapan.

Rindu bukan milik seseorang, hanya milik gubuk kecil.
Atapnya terbuat dari jerami tanpa pagar.
Jadi siapapun kawan, marilah singgah.

Saturday, February 10, 2018

Pengunjung

Aku si pengunjung.

Pengunjung kota Jakarta yang padat setiap malam minggu di awal bulan. Dua tahun sama-sama bergulat dengan skripsi, menemukan impian dan manis-manisnya cinta. Seperti gula-gula semoga tidak berujung pahit tetapi tersisa di lidah.

Aku si pengunjung.

Seringkali kita lupa rasa-rasanya kembali saat dua puluh satu tahun. Obrolan kita masih tentang bobroknya pendidikan, tugas berkedok monster dan hiburan murah seperti makan kentang goreng duduk lesehan, popcorn Jolly Time di dalam XXI.

Aku si pengunjung kehidupan.

Waktu tidak mau menunggu kita, siapapun harus siap melangkah lebih jauh, mengambil keputusan dan bekerja keras. Aku menemukan perhentian di tengah keramaian. Kisah bersamamu lebih dari obrolan cantik di kafe kota, pelukanmu lebih dari erat dari teman. Usia beranjak memutih, semoga saja cerita dan kisahmu selalu bisa aku dengar dan kita nikmati bersama.

Aku si pengunjung.

Terima kasih.

Friday, February 9, 2018

Perempuan

Pernah. Aku lelah menjadi seorang perempuan ketika temanku bilang, lebih mudah jadi perempuan. Laki-laki harus menafkahi, umur udah segini tapi masih belum tahu masa depan mau seperti apa. Ga salah.

Tapi siapa bilang? Aku pernah lelah jadi perempuan, dia terlalu sok kuat di depan banyak orang, menasehati, memuji, tertawa, menari. Bohong. Semuanya kebohongan. Semuanya pura-pura. Cengeng. Berperasaan. Bodoh. Diinjak. Harus menurut.

Siapa bilang? Dia pernah lupa rasanya kebenaran, terlalu sering menjawab ya padahal tidak. Sendirian dianggap salah, perasaan tidak menentu. Pagi ini tertawa malamnya menangis. Kadang mengerti orang lain lebih mudah daripada mengerti diri sendiri kan?

Siapa bilang? Kalau kamu bilang jadi perempuan mudah, coba. Tanya ibumu. Minta ibu ceritakan rahasia-rahasia seorang perempuan. Berhati-hati, jangan menyakiti, lemah lembut, melayani jadi label di kepalanya, tidak boleh melawan, tidak bisa beragumen.

Aku pernah lelah jadi perempuan. Ketika punya harapan harus bisa mengerti batasan. Tahu kapan saatnya berharap dan tahu kapan saatnya menjumpai realita. Dia takut mencintai dirimu karena cinta itu seperti kopi yang walaupun airnya sudah habis, ampasnya masih tersisa.

Sama.

Sama halnya dengan sakit hati. Cinta dan sakit dua hal yang bertolak belakang tapi rajin duduk bersampingan.

Thursday, February 8, 2018

Jendela

Menemukanmu pulang seumpama cerita yang terdengar sederhana dan tidak bersyarat. Lampu kamar yang redup di jendela yang berkabut diam-diam menyaksikan kegelisahan malam. Belum pantas rasanya mencintaimu di ketidakpastian dan belum pandai rasanya berbohong pada kebenaran.

Jam berbunyi tik-tok, senja belum bisa bertemu dengan malam jalan beriringan, cerita tentangmu bersahut-sahutan di telingaku. Persinggahan mana yang membawaku tidak takut laut yang dalam, malam yang gelap dan kapal bajak laut.

Di mana badai mendera dan langit bermusuhan ingin menerka, tetapi rumahku tetap ada dan nyaman.