See myblog

Another Language

Thursday, September 21, 2017

Catatan di bawah langit





Menuju Wonosobo jadi sebuah tantangan baru untuk kami memulai perjalanan. Jalanan yang berliku dan langit yang gelap ditabur bintang menantang kami untuk cepat-cepat sampai di Sikunir untuk mendirikan tenda. Memang kami agak larut berangkat dari Jogjakarta, tapi bukan jadi halangan untuk kami bertujuh menikmati malam bersama.

Kami sampai kira-kira pukul 2 dini hari. Langit cerah dan cuaca tentu saja dingin. Bergegas mendirikan tenda di camping ground yang letaknya tepat di samping danau. Kami pun cepat cepat masuk sambil memakai pakaian hangat. Aku dan temanku juga sempat mencoba mengambil foto bintang sebelum kami akhirnya memutuskan untuk tidur.

Pagi menyambut kami dengan cepat, mentari pagi memandikan rambut dan tubuh kami, sedangkan keindahan gunung dan kabut yang perlahan tersingkap memanjakan mata kami. Sikunir merupakan bukit yang bisa ditempuh dengan jarak sekitar 800m dari tenda kami, dan tangga-tangga batu memudahkan kami untuk menaiki satu demi satu langkah.

Setelah puas kami mencoba baby potato khas Dieng, gorengan pisang tempe dan tahu dengan minuman hangat, kami bersiap-siap berbenah dan mandi. Untuk menyambut perjalanan selanjutnya yaitu Gunung Prau.

Gunung Prau dengan ketinggian 2.565mdpl dapat dicapai melalui dua jalur pendakian, jalur Dieng dan jalur Petak Banten. Kami memutuskan untuk berangkat melalui jalur Dieng yang memakan waktu lebih lama yaitu sekitar 3 jam.

Perjalanan dimulai dengan ditambah satu teman, registrasi, dan berfoto bersama. Ini pertama kalinya aku mendaki gunung. Bukan hal yang mudah tapi bukan artinya mustahil. Persiapan untuk fisik udah kami siapkan sebelumnya diiringi istirahat yang cukup dan jangan lupa berdoa.

Kami melewati perkebunan kentang di sana, kentangnya besar-besar dan katanya warga sekitar itu untuk di eksport ke luar negeri. Wah iya, kami menggumam belum pernah tuh icip kentang sebesar itu.

Kami melalui pos satu, makan siang di pos dua dan pos tiga semuanya kami lalui dengan selamat. Kalau ada diantara kami yang lelah kami beristirahat sejenak untuk sekedar minum atau duduk. 

Perjalanan naik ke puncak buatku bukan cuma sebuah perjuangan fisik tapi juga hati. Gimana aku belajar untuk saling memperhatikan, meninggalkan ego dan jujur terhadap diri sendiri. Perjalanan sederhana yang mengeratkan satu sama lain, dan pencarian jati diri. Kami bersyukur untuk hari itu, kebersamaan dan perjalanan yang tidak mungkin kami lupa.

Ada banyak cerita yang kami simpan dalam hati masing-masing. Ada rahasia yang tersimpan rapih. Ada kenangan yang tersebar seperti bintang di langit, ada keseruan, ada canda tawa, ada ucapan syukur saat melihat temanku yang baik-baik saja setelah hipotermia, ada rasa aman, ada cinta. Ada banyak kisah karena ada kasih. 

Kami berjalan pulang setelah menikmati mentari yang malu malu terselingkup kabut, hamparan awan, savana yang luas, kerumunan tenda ramai yang menyesatkan (aku dan temanku nyasar mencari tenda kami haha). Sarapan pasta dengan puding mangga terenak dan ternikmat. Kami siap-siap untuk pulang, merapihkan tenda dan berucap doa. 

Jalur Petak Banten ramai dilalui orang untuk turun, kira-kira di tempuh dalam waktu 2 jam. Treknya lumayan berdebu dan curam, untungnya bawaan kami sudah lebih ringan. Di perjalanan juga kami bisa menikmati manisnya semangka dan enaknya pisang goreng.

Aku bersyukur karena kami ada dalam cerita semesta. Mungkinkah alam juga sama halnya menyaksikan kami yang berkeluh kesah, menonton lelucon, merindukan kehangatan, sampai berlomba mengabadikan mentari? Mengutip kata Alexander Supertramp, "Rasa cintaku kepada manusia tidak pernah mengalahkan perasaan cintaku kepada alam."


Sikunir, Prau
Hendra, Ali, Qin, Imam, Ica, Novi, Yapi, Inggrid
September 2017

Friday, September 15, 2017

Berdamai

Pernahkah kamu tiba-tiba merenung. Apa yang kamu cari di dunia ini?

Apa itu masa depan dan bahagia?

---

Tiba-tiba kakimu yang berjalan terasa lelah dan pikiranmu melayang ke angkasa. Ke langit yang warnanya keorenan. Mentari di ujung sana.

Di sana, di atas bukit kamu duduk bersama seseorang yang kamu sayang, menikmati harimu dalam diam. Angin berhembus dan jadi saksimu.

Tanpa apapun, tanpa beban, hanya kamu dan seseorang itu yang tanpa peduli dengan apapun yang kamu takutkan. Menikmati tanpa harus terburu-buru. Meninggalkan kameramu supaya hanya mata dan hati yang mengabadikannya.

Diamlah, jangan berbicara apapun. Lihat mentari yang berlomba untuk mengusir dinginnya jemarimu.

Jangan mengucapkan apa-apa.

Supaya hanya detak jantungku yang terdengar di telingamu, dan hembusan angin yang tidak lelah mengibaskan seluruh gundah dan gelisahmu. Kemarilah, tidurlah dalam tumpukan rumput yang bermandikan matahari.

---

Seperti itulah kamu.

Senyummu sudah cukup membuatku bertanya-tanya siapa kita untuk persinggahan ini. 

Mengapa kamu di sampingku tanpa kita tahu sedikitpun ke mana arah sepatu kita seharusnya melangkah.

Mengapa ketika ada puluhan pertanyaan tersembunyi di dalam hati yang harus kukelabui.

Mengapa banyak aturan di hidup ini sehingga aku akhirnya tahu kapan aku harus berhenti. Menanggalkan sepatuku untuk berlari menuruni puncak bukit itu.

---

Kembali dalam pencarian di lembah yang penuh dengan debu dan pasir. Panas. Terik dan haus.

Tuesday, September 12, 2017

Kembali Pulang

Buatku. Perjalanan pulang adalah awal yang membuatku harus berlari seperti angin. Kalau bisa memutar waktu dan melupakan. Tidak aku tahu apapun, kamu pun apalagi. 

Tapi satu hal yang kita ketahui bersama, bukan apa-apa selain waktu yang akan berlari dan menguburnya menjadi debu. Mati. Tertinggal dan diinjak orang. Sama halnya dengan itu.

Itulah sebabnya aku menyukai kenangan. Bukan apa-apa karena aku tidak bisa mengingat semuanya dan setiap orang berubah, waktu mengubah, orang berubah dan cerita berubah.

Aku selalu mensyukuri perjalanan, karena tidak pernah ada awal yang tidak ada ujungnya dan tidak pernah ada ujung yang tidak dimulai dari awal.

Sampai jumpa lagi,

Jogjakarta.

Tuesday, August 29, 2017

Surat untukmu

Kalau kuhitung-hitung.

Ini kali ketujuh aku berkunjung ke kotamu. Kusebut kotamu karena aku hanya bertegur sapa sebentar lalu kembali pulang.

Pertama kali mengenalmu saat aku tinggal di Malioboro ditemani kakak. Saat itu aku masih malu-malu, aku masih sulit mengeja sudut-sudut jalanmu.

Kali keduanya tumbuh untuk jatuh cinta kepadamu. Tiga bulan cukup untuk mengenalmu dan berbagi sore sampai malam. Aku mengerti teman yang berbeda dan memanggilnya saudara. Tiada malam yang terlewat tanpa mengucap kata syukur. Karena saat yang sedih dan sepiku jadi cerita yang bahagia. Berkenalan dengan alam, mendengar bahasa angin dan mencicipi air laut.

Kali ketigaku aku sempat menyapamu lagi, tapi hanya sebentar. Menemani kakak menelusuri kota Jogjakarta naik sepeda pinjaman. Istimewa.

Pergi bersama teman seperjuangan adalah ceritaku yang berharga. Kesempatan menyapaku memuaskan mata hati dan pikiranku untuk mencintai alam. Perjalanan keempatku.

Tanpa sengaja aku bekerja di tempat kerja di mana ada kantor di sana. Aku pun bertualang ke Karimun Jawa, keliling kota dan berbagi ceria. Ini kisah ke limaku.

Keenam aku main ke Jogja lagi, sambil kerja aku banyak menghabiskan waktu untuk bermain lagi. Kenal banyak orang, menikmati banyak cerita.

Kali ketujuh aku akan ke sana nanti.

Aku bertanya-tanya sampai berapa kali aku harus pulang pergi darimu, sampai kapan aku bisa menetap di sisimu?

Jakarta,
Kangen