See myblog

Another Language

Friday, August 11, 2017

Semelah

Juli kemarin aku kesampaian pertama kali nonton wayang kontemporer. Karya Mas Eko Nugroho sukses membungkus visual ke dalam seni pertunjukan, penyampaian yang modern, unik dan lucu.


The Wayang Bocor: Semelah (God Bliss)
Ide & karya visual oleh Eko Nugroho
Naskah & sutradara oleh Gunawan Maryanto

The Wayng Bocor adalah sebuah proyek penciptaan karya pertunjukan wayang kontemporer yang diiniasi oleh perupa Eko Nugroho sejak tahun 2008.

Semelah mempunyai makna sama dengan Bismillah bagi orang Jawa merupakan simbol yang kuat atas proses asimilasi budaya Jawa & ajaran Islam.

Sinopsis
Jawa di sebuah masa. Saat Hindu di gigir kehancurannya. Orang-orang kembali pada mistisme. Majapahit perlahan runtuh. Kelaparan dan kemiskinan menjalar-jalar. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Di pinggir pantai yang jauh Demak bercahaya. Azan perlahan terdengar menelusup di tengah-tengah mantra yang masih berdengung di berbagai penjuru.

Seseorang berkedok hitam-hitam melompat-lompat di atas wuwungan rumah. Di punggungnya ia menggendong karung yang penuh berisi barang-barang. Seperti sinterklas ia membagi hadiah di tengah malam buta pada fakir miskin. Orang-orang bangun di pagi hari dan menemkan kembali kebahagiaannya.

Di tepi hutan orang yang berpakaian hitam-hitam layaknya ninja bersiaga. Seorang ulama lewat. Orang berpakaian ninja, sebut saja Maling Aguna, segera mencegatnya. Ia membegal ulama tua itu. Maling Aguna bersujud saat ulama itu memberinya bongkahan-bongkahan emas yang tercipta dari tanah. Maling Aguna bertapa di tepi kali. Membersihkan dirinya dari kejahatan-kejahatan di masa lalunya.

Masjid-masjid berdiri. Mantra-mantra berubah bunyi. Salawatan Jawa terdengar di mana-mana. Maling Aguna bangkit dari tapanya. Ia membawa wayang dari desa ke desa. Ia mengajarkan Islam dengan menggunakan cara-cara Jawa.

Maling Ulama di usir oleh ayahnya
Pertunjukan wayang bersama aktor

Perjalanan Maling Aguna

Bertemu Ulama


Penyebaran agama Islam

Tuesday, August 8, 2017

Sesuka-sukamu

Sesuka apa kamu pada pohon pinus yang hampir pudar kalau kabut menyentuh daunnya?

Jika suara gemuruh itu mendebarkan jantung dan tapak kuda menari-nari dalam ingatanku. Debu menjadi teman bukan lawan, panas menjadi terang bukan terik dan langkah menjadi ringan seperti kaki yang tidak terikat dan gelisahmu hilang.

Rumahku adalah kaki yang melangkah, temanku adalah orang yang berlalu lalang dan perasaan itu tumbuh. Alam adalah rumah. Semesta adalah anugrah.

Bila saja kita bisa saling bertatap mata lagi, dengan rumput yang menari, hamparan bunga yang berlomba menebar wangi. Aku mau kembali di waktu berhenti mengejar. Aku mau bersandar sampai bintang menyapaku dalam gelap dan bulan menjanjikanku teman.

Tertidur dalam lelap tapi lengkungan bibirku tidak bisa bersembunyi. Jatuh untuk mencintai semesta yang baru saja aku menggenggam tangannya saat kuajak berkenalan.

Sesuka apa kamu pada hari di mana sinyal hp mu hilang dan yang kamu punya adalah kawan yang harum parfumnya kamu kenali, rautnya bisa kamu tebak, dan rangkulannya bisa kamu rasa.

Bromo-Batu,
Hidupi harimu

Thursday, August 3, 2017

Berperang

Kisah datang.
Yang datang kita tunggu-tunggu.

Kisah pergi.
Dan yang pergi kita melepasnya dengan syukur atau dengan mungkin benci.

Itu pilihan. 

Kisah datang dan pergi.

Ia diciptakan oleh tanpa kesengajaan waktu, yang aku sebut dengan takdir perjumpaan. Lalu kadang saling terkait untuk membuat makna, atau hanya sekedar lalu, menjauh dan terlupakan. Kisah yang akan datang tanpa kita sadari dibentuk dari pemikiran kita sendiri, hati, emosi, pergumulan atau rasa tidak peduli.

Semudah itu mengejek, dan semudah itu melukai. Semudah itu memuji, dan semudah itu memberi. Itu pilihan. Lagi lagi pilihan.

Entah kita sudah siap atau belum. Waktu, kesempatan akan mengubah kisah yang kita jalani sekarang menjadi masa lalu. Kisah yang datang lalu beranjak pergi. Ia hanya mampir sebentar.

Jakarta,
menangkan kisah

Dua arus

Karena terkadang lebih baik pura-pura tidak mendengar daripada tidak bisa menahan kata-kata. Lebih baik tidak punya mulut kalau apa yang diucapkan hanya menggores luka dan pahit.

Aku sadar setiap manusia yang berkelahi, yang beradu dan bergesekan terlalu keras akan saling menyalkiti. Mereka ingin menang untuk sebuah gengsi dan keinginannya di kabulkan. Mereka lupa dibalik itu hati mereka sama-sama terluka.

Aku tidak tahu sebagaimana dalam perasaan mereka, yang aku kenal hanya karena dia begini dia salah, dia begitu aku yang benar.

Aku tidak memilih di antara satu, karena akupun juga sama halnya manusia yang berjuang. Aku menahan kata-kataku, memilih apa yang mau kudengarkan supaya aku tidak terlalu sakit hati. Aku memilih untuk menjauh supaya mereka tidak merasa aku datang dan pergi. Aku memilih untuk bersandar dengan apa yang aku tidak pernah dapat aku ketahui. 

Jakarta,
rumah kita