See myblog

Another Language

Thursday, October 12, 2017

Rumah

Mari kita pulang. Ke sebuah rumah yang di dalamnya tidak ada sekat, tidak ada andai-andai, hayalan, dan ketidakpastian. Pertanyaan itu hanya sebuah kata tanya yang jika kamu berputar untuk mendapatkannya, tetap kamu tidak bisa menyelaminya. Lalu perasaan adalah anugrah yang membuatmu bisa menentang pertanyaan, membebaskanmu dari aturan.

Pulang tidak akan membuat kita bersembunyi satu sama lain. Tidak akan ada topeng yang terhias di wajahmu, tidak juga di wajahku. Rumah tidak akan sanggup kita bohongi jika setiap hari kita merindukan rumah.

Memang, kita tidak tahu ke mana arah tujuan kita. Apa rumahmu itu yang kusebut rumahku? Aku tidak tahu apapun, malas untuk menerka-nerka atau bermain dengan rasa itu. Karena aku ingin pulang, lalu tidur di dekat kamu. Berselimut bintang di malam hari.

Aku tidak perlu takut, kita akan menemukan rumah. Bukankah kamu di sini, di dalam hati dan pikiranku?

Jogja ke Jakarta
di suatu malam perjalananku menuju rumah.

Wednesday, October 4, 2017

Di dunia

Di dunia ini ada beribu-ribu kesempatan
yang datang lalu pergi
yang datang dan aku tangkap
yang sudah pergi sebelum sempat aku pahami

Di dunia ini ada berpuluh-puluh daftar nama manusia
yang semasa kecil jadi teman
yang beberapa jadi sahabat
yang satu persatu mengukir jarak

Di dunia ini ada beberapa mimpi
yang katanya indah tapi tidak juga
yang katanya bisa tapi sulit
yang katanya sulit ternyata bisa

Di dunia ini ada ribuan rahasia
yang dengannya kubeberkan
yang dengannya tidak kubagi barang satupun
yang dengannya kusimpan baik-baik

Di dunia ini ada kecemasan
yang datang menyelinap di bantalku
yang memenuhi kepalaku
yang tiap hari kuusir dengan doa

Di dunia ini ada pertanyaan
yang jawabannya iya
yang jawabannya tidak
yang jawabannya belum
yang jawabannya tidak ada jawaban

Jakarta.

Sunday, October 1, 2017

Rahasia malam

Kita berjumpa tapi kita tahu langkah kita tidak seirama dan perjumpaan kita akan tertutup kabut. Tidak hilang hanya bersembunyi.

Aku tidak ingin peduli dengan apapun yang ada disekeliling kita, mengapa dan bagaimana. Itu hanya seumpama kata tanya yang mampir sebentar untuk duduk di sampingku lalu menyelinap pergi. Aku tidak ingin peduli dengan apapun yang ada di dalam sini. Pada akhirnya itu semua akan hilang dan hari akan berganti dengan sebuah lambaian tangan, perpisahan.

Yang padanya kututup kedua mataku karena melelahkan ketika aku harus menatapmu. Tetapi aku tetap di sini mendengar kisahmu, berdoa untukmu dan menikmati waktu yang terburu-buru pergi meninggalkan kita.

Jakarta,
berbagi rahasia

Thursday, September 21, 2017

Catatan di bawah langit





Menuju Wonosobo jadi sebuah tantangan baru untuk kami memulai perjalanan. Jalanan yang berliku dan langit yang gelap ditabur bintang menantang kami untuk cepat-cepat sampai di Sikunir untuk mendirikan tenda. Memang kami agak larut berangkat dari Jogjakarta, tapi bukan jadi halangan untuk kami bertujuh menikmati malam bersama.

Kami sampai kira-kira pukul 2 dini hari. Langit cerah dan cuaca tentu saja dingin. Bergegas mendirikan tenda di camping ground yang letaknya tepat di samping danau. Kami pun cepat cepat masuk sambil memakai pakaian hangat. Aku dan temanku juga sempat mencoba mengambil foto bintang sebelum kami akhirnya memutuskan untuk tidur.

Pagi menyambut kami dengan cepat, mentari pagi memandikan rambut dan tubuh kami, sedangkan keindahan gunung dan kabut yang perlahan tersingkap memanjakan mata kami. Sikunir merupakan bukit yang bisa ditempuh dengan jarak sekitar 800m dari tenda kami, dan tangga-tangga batu memudahkan kami untuk menaiki satu demi satu langkah.

Setelah puas kami mencoba baby potato khas Dieng, gorengan pisang tempe dan tahu dengan minuman hangat, kami bersiap-siap berbenah dan mandi. Untuk menyambut perjalanan selanjutnya yaitu Gunung Prau.

Gunung Prau dengan ketinggian 2.565mdpl dapat dicapai melalui dua jalur pendakian, jalur Dieng dan jalur Petak Banten. Kami memutuskan untuk berangkat melalui jalur Dieng yang memakan waktu lebih lama yaitu sekitar 3 jam.

Perjalanan dimulai dengan ditambah satu teman, registrasi, dan berfoto bersama. Ini pertama kalinya aku mendaki gunung. Bukan hal yang mudah tapi bukan artinya mustahil. Persiapan untuk fisik udah kami siapkan sebelumnya diiringi istirahat yang cukup dan jangan lupa berdoa.

Kami melewati perkebunan kentang di sana, kentangnya besar-besar dan katanya warga sekitar itu untuk di eksport ke luar negeri. Wah iya, kami menggumam belum pernah tuh icip kentang sebesar itu.

Kami melalui pos satu, makan siang di pos dua dan pos tiga semuanya kami lalui dengan selamat. Kalau ada diantara kami yang lelah kami beristirahat sejenak untuk sekedar minum atau duduk. 

Perjalanan naik ke puncak buatku bukan cuma sebuah perjuangan fisik tapi juga hati. Gimana aku belajar untuk saling memperhatikan, meninggalkan ego dan jujur terhadap diri sendiri. Perjalanan sederhana yang mengeratkan satu sama lain, dan pencarian jati diri. Kami bersyukur untuk hari itu, kebersamaan dan perjalanan yang tidak mungkin kami lupa.

Ada banyak cerita yang kami simpan dalam hati masing-masing. Ada rahasia yang tersimpan rapih. Ada kenangan yang tersebar seperti bintang di langit, ada keseruan, ada canda tawa, ada ucapan syukur saat melihat temanku yang baik-baik saja setelah hipotermia, ada rasa aman, ada cinta. Ada banyak kisah karena ada kasih. 

Kami berjalan pulang setelah menikmati mentari yang malu malu terselingkup kabut, hamparan awan, savana yang luas, kerumunan tenda ramai yang menyesatkan (aku dan temanku nyasar mencari tenda kami haha). Sarapan pasta dengan puding mangga terenak dan ternikmat. Kami siap-siap untuk pulang, merapihkan tenda dan berucap doa. 

Jalur Petak Banten ramai dilalui orang untuk turun, kira-kira di tempuh dalam waktu 2 jam. Treknya lumayan berdebu dan curam, untungnya bawaan kami sudah lebih ringan. Di perjalanan juga kami bisa menikmati manisnya semangka dan enaknya pisang goreng.

Aku bersyukur karena kami ada dalam cerita semesta. Mungkinkah alam juga sama halnya menyaksikan kami yang berkeluh kesah, menonton lelucon, merindukan kehangatan, sampai berlomba mengabadikan mentari? Mengutip kata Alexander Supertramp, "Rasa cintaku kepada manusia tidak pernah mengalahkan perasaan cintaku kepada alam."


Sikunir, Prau
Hendra, Ali, Qin, Imam, Ica, Novi, Yapi, Inggrid
September 2017