See myblog

Another Language

Sunday, January 6, 2019

Teduh

Angin menundukkan rumput yang gemar menari menjadi tertunduk layu. Terik tidak berhujan dan ladang pecah tidak sanggup menahan panas. Suara burung tidak ada di tengah taman bunga, tidak juga kupu-kupu yang berwarna-warni. Aku beranjak ingin cepat pulang, membenamkan wajahku di sisimu. Kala datang hujan badai dan gemuruhnya, aku tidak goyah dan aku tidak lari karena takut. Bahumu tempat paling nyaman untukku bersandar dan segudang alasan buatku tersenyum.

Wednesday, January 2, 2019

Rasa rasa tahun baru

Hujan rintik-rintik turun membasahi jalanan yang kering dan berdebu. Di ujung jalan banyak pejalan duduk di halte menunggu hujan reda dan antrian bis datang. Lelah sehabis bekerja di kota destinasi pertama seluruh pendatang.

Aku masih di sini, duduk menunggu hujan reda untuk pulang. Menghitung satu demi satu daun yang berguguran sambil merapihkan helai-helai rambutku yang gemar menari. Tahun baru di ibukota adalah hal yang selalu aku rasakan sekaligus mimpi sebagian besar orang yang berpisah jauh dari keluarga. Sedangkan aku punya waktu dua puluh empat jam bersama orang-orang yang aku sayang.


Kata orang perjalanan ini kadang berputar-putar, tidak tahu arah, macet hingga di hantui rasa tidak sabar. Tetapi aku ingin belajar banyak di perjalananku. Tibakan aku di rumah pada waktunya.

Monday, December 24, 2018

Selamat Natal

Ada percampuran warna oren dan biru yang menyatu di langit sore itu. Langkah-langkah menuju Rumah Tuhan, kebersamaan, suasana Natal adalah salah satu yang aku tunggu-tunggu. Hijau dan merah, lagu-lagu yang memanjakan telinga terus melaju di toko-toko manapun yang kutemui. Rupanya hari ini malam menuju hari Natal, yaitu hari kelahiran Tuhan Yesus.

Natal biasanya selalu dirayakan megah dan ceria. Tukar kado, makan-makan cantik, baju baru, berkumpul dengan teman-teman jadi kebiasaan orang-orang yang merayakan Natal. Tetapi ada yang sadar Natal ada karena dosa? Ada bayi Tuhan yang lahir ke dunia untuk menebus dosa manusia, termasuk dosaku.

Lalu masih bermain-mainkah aku dengan dosa?

Jangan-jangan makna natal itu sendiri bias lalu tergantikan oleh kerlap-kerlipnya Natal. Sejauh mana aku mengenal Tuhan?

Bintang bermunculan dengan indahnya menerangi langit yang pekat hitam. Hari ini di kamarku tidak ada pohon natal di sudutnya, tidak berkelap-kelip. Hanya ada doa dan ucapan selamat Natal dengan sisa-sisa kebersamaan.

Selamat hari Natal, semoga damai Tuhan selalu beserta kita.

Monday, December 17, 2018

Akhir tahun

Satu lagi kisah di akhir pengunjung yang siap melambaikan ceritanya. Aku ingat-ingat lagi berapa banyak keinginan yang berseru-seru untuk di hapus di atas kertas. Berapa banyak tempat yang berlomba untuk bersantai di akhir pekan. Sudut tempat duduk untuk minum kopi. Kisah lain yang datang tidak terduga lalu tanpa berpamitan pergi.

Aku akan menikmati sisa senja di tahun ini seperti matahari dengan lambat-lambat tertidur. Enggan bangun terlalu siang karena waktu terbang seperti kapal-kapalan kertas, kesana kemari tanpa diduga. Aku akan menjalani rahasia yang di ciptakan tanpa berusaha mengungkapkannya. Enggan menerka atau berkhayal di siang hari dan berjanji tidak mau memaki-maki cerita yang sudah pulang kampung.