See myblog

Another Language

Wednesday, October 17, 2018

Malam sunyi

Malam pernah jadi kesukaanku saat aku kecil. Waktunya orang tua berhenti mengomentari ini dan itu. Malam waktu aku berimajinasi, berdoa, bercerita atau menangis karena hari itu buruk. Setiap malam aku menulis sebuah buku yang aku beli di warung, murah karena kertasnya tipis. Aku goreskan bolpen tinta untuk bercerita.

Malam pernah jadi kesukaanku saat aku berpergian. Ruangan biru tiga kali empat di sudut Kota Jogjakarta, sepeda ontel bekas yang aku pilih dengan susah payah, ice cream Mcd yang katanya bisa memberikanmu kebahagiaan. Atau malam ditemani langit berbintang di sebuah warung di pinggir kota Jogja. Ada rasa manis jatuh cinta, pahit rasanya patah hati, sedih rasanya kesepian, indah rasanya bahagia. Semua ada di malam waktu itu.

Tetapi mengapa kini malam jadi ketakutanku? Langit di kota tidak berbintang dan tidurku tidak berselimut mimpi indah. Malam memaksaku terjaga sampai subuh. Kegelisahan memaksaku bertatap muka sebelum aku ingin cepat-cepat tidur. Mungkin harapan sudah lelah, cinta bersembunyi, pikiran lupa jalan pulang dan kebahagiaan sedang tertidur pulas.

Sempurna

Sesungguhnya senja membuatku lupa. Lupa caranya berhenti untuk mencari-cari celah. Maka bersyukurlah untuk waktu yang masih menunggu untuk kamu temani. Atau karena langit masih berwarna biru. Perlahan, tanda tanyaku akan segera hilang lalu melebur menjadi kenyataan. Menunda kadang baik tetapi tidak pernah ada waktu yang tepat bukan?

Ada ribuan hari yang akan menemaniku untuk berjalan, berpuluh-puluh pasang mata yang mengawasi, tetapi hanya hitungan jari yang mengerti dan mau berjalan di sampingmu. Entah saat badai yang membutakan semua indramu bahkan sampai renta dan maut menjemputmu.

Aku tidak pandai bermain teka-teki. Aku tidak mau menerka-nerka, tidak mau memperpanjang kisah dongeng di masa kecil “happily ever after.” Aku tidak mencari bahagia di setiap jalanku, tidak berani berharap seperti anak kecil merindukan pelukan ibunya, tidak mau untuk bermimpi terlalu tinggi.

Kemarikan pelukan ibuku, di sana aku merasa tenang.


Friday, October 5, 2018

Menunggu

Mengapa kau buat rumit perjalanan kita yang tidak berujung? Jalannya seperti batu yang enggan kupungut sampai melukai telapak kakimu. Rumput liar menusuk dan melukai pergelangan kakimu, menggambil satu demi satu keyakinan untuk segera pudar. Tidak ada satu katamu yang bisa kutunggu.

Kalau kau tahu mengapa aku memenuhi diriku dengan hal ini dan itu, itu bukan perkara. Aku hanya mengubur tingkah lakuku yang mendesakmu. Supaya kamu punya ruang dan begitu pula denganku. Ruang untuk apa? Untuk pura-pura lupa sampai kita benar-benar lupa, menjadi tua dan dimakan usia.

Kau ada di setiap penghujung malamku, cerita yang tidak bertepi dan tidak bertulang. Kau adalah mimpi terbaikku tapi juga minpi terburukku,  akhir dari sebuah cerita bahagia adalah bangun dari mimpi. Lalu pergi menguburkannya di balik muka-muka kesenduanku.

Jendela bis adalah saksi untuk pertanyaan diluar sana yang menakutkan, perjumpaan dengan orang-orang yang meragukanku. Mereka  tahu, tapi mereka pura-pura tidak tahu. Aku takut, tapi sayang kamu juga tidak pernah tahu.

Tapi aku tidak peduli lagi.

Tuesday, October 2, 2018

Permainan

Hujan berlomba ingin cepat gugur ke dalam tanah. Mengubur cerita yang tidak pandai disuarakan. Ada banyak rahasia terbang dari bibirmu dan mendarat di telingaku. Sedikit rahasiaku yang mendarat di telingamu, apalagi hatimu.

Hari-harimu berlalu tapi keingintahuanku padam seperti api di siram pasir. Tidak ada pertanyaan, tidak ada jawaban. Tidak ada rasa ingin tahu.

Denganmu aku tidak mencari rumah, karena rumah seperti monster yang menelan harapan. Tertimbun puing puing ketakutan, penekanan dan keegoisan. Aku tidak tahu jalan mana yang membuatmu mengucap bangga, jika ya, aku akan keluar. Pergi untuk membanggakanmu. Menggugurkan keinginanku seperti hujan yang gugur ke dalam tanah. Sepi, hilang dan terinjak-injak.

Jika kamu sebut aku terlalu bermain hati, memangnya kamu tidak?