See myblog

Another Language

Tuesday, June 19, 2018

Pintu rumah

Di dalam rumahku ada banyak orang lalu lalang. Mereka makan, minum kopi atau teh, asik mengobrol duduk bertamu lalu pergi. Ada yang bermalam satu atau dua hari. Ada juga yang memutuskan tinggal sebulan lalu pergi ke kota lain.

Aku tidak tahu denganmu. Apa kamu akan jadi tamuku yang mampir sejenak sebelum melanjutkan perjalananmu?

Tapi tidak apa-apa, rumahku di masa depan tidak akan sama tanpa kedatanganmu. Jika memang ingin pergi, silakan, akan kubukakan pintu untukmu keluar sama seperti aku membukakan pintumu untuk masuk.

Monday, June 18, 2018

Toko kue tua

Aku akan jadi buku yang kamu baca di pinggiran toko kue tua di tengah kota. Kacanya berdebu, kayunya kokoh walau sudah terlihat reot. Lantainya bermotif biru campur merah. Kamu memesan secangkir teh tarik panas dengan craker tawar di piring kecilnya. Kamu memilih aku dari sekian banyak buku di rak buku gratis di samping kasir. 

Dua jam kamu duduk di samping jendela. Diluar terik, mungkin itu sebabnya kamu betah duduk di sana. Mungkin pak kasir akan bertanya padamu isi buku itu karena kamu terlalu asik membaca.

Aku bukan buku pengetahuan, bukan buku yang membuatmu pintar. Aku bukan buku sejarah. Bukan buku puisi dan cerita pendek yang membuatmu terharu. Aku hanya buku tua berkisah tentang cinta seorang anak kepada impiannya. Memasukan impiannya dalam balon warna-warni, jika aku berhasil genggaman itu akan aku lepas menuju langit-langit kota yang berhiaskan senja.

Aku melihatmu sesekali terangguk-angguk, ya, ceritaku bisa saja mirip ceritamu. Kamu berhati-hati dengan impian. Dahimu berkerut saat aku berucap “Impian tentang cinta milik setiap makhluk di bumi”.

Bajumu putih polos, rambutmu di belah seadanya, celanamu kamu lipat berantakan. Sesederhana penampilanmu, apa pikiranmu sesederhana itu juga tentang cinta? Aku tidak mau menebak-nebak. 


Kamu mengaduk-aduk teh tarikmu yang sudah hampir dingin. Minum dulu, akan aku simpan ceritaku selanjutnya untuk besok pagi. Temui aku lagi di tempat ini, di sudut jendela toko kue tua tempat aku suka melihatmu membacaku.

Thursday, June 14, 2018

Waktunya bersyukur

Aku suka naik gunung.

Kalau ada beberapa teman yang bertanya kenapa aku suka naik gunung, aku beritahu di sini.

Buatku naik gunung membuatku merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Menemukan diriku lagi di hadapan Tuhan, menemukan keindahan alam dan kecilnya manusia di hadapan ciptaanNya yang besar.

Disamping itu naik gunung adalah tantangan untukku yang suka mencoba hal baru, tantangan untuk belajar sabaaaar, tidak menyerah, berusaha walaupun kadang aku harus berjalan sangat pelan dan dibelakang. Bagi orang lain naik gunung bisa jadi accomplishment mereka, hehe kalo aku belum sampai segitunya sih. Jika aku punya kesempatan, aku ambil.

Aku belajar untuk menikmati perjalananku saat naik gunung, begitu pula mengerti teman-teman seperjalanan. Naik bukan hanya sampai di puncak atau tidak, tetapi perjalananku itulah yang mendewasakanku.

Aku menemukan diriku lagi setiap aku naik gunung, menemukan rasa setia kawan, menemukan persahabatan, menemukan cinta. Satu hal yang aku percaya setiap perjalanan apapun akan membawa dan membuka kedua mata, hati dan telingaku, hidup untuk dijalani dan dinikmati, hidup untuk selalu belajar, hidup adalah kesempatan. Maka aku mau.

Belajar mengalah

Dalam hidupmu ini mungkin kamu punya prinsip hidup dan hal-hal baik yang kamu percaya untuk kamu lakukan. 

Hal itu baik. Hal itu sempurna. Hal itu tidak merugikan dan tidak membuat beban buatmu, jadi tidak sulit bagimu jika sering melakukannya.

Pada kenyataannya di perjalanan hidupmu, kamu akan bertemu beberapa orang yang tidak melakukan hal baik tersebut, kusebut tidak peduli etika yang baik karena menurut mereka hal baik ini beban, hal baik ini menyulitkan mereka. Membuatmu sebal dan kamu tetap ingin berjuang untuk prinsipmu.

Kamu sudah berjuang dan menegur untuk melakukan hal baik tersebut, tetapi apa daya ternyata kamu baru menyadari ada hal-hal yang harus kamu toleransi. Kamu biarkan saja dan pura-pura tidak peduli. Tetapi mungkin masih bisa tetap kamu perjuangkan diam-diam.


Tetapi jangan menegur dan jangan marah, setiap orang berhak punya prinsip yang berbeda denganmu. Apa yang baik untukmu bukan berarti selalu baik untuk orang lain.