See myblog

Another Language

Monday, August 20, 2018

Di renggang hujan

Titik-titik renggang hujan mengisi jarak di antara sepi. Dinginnya hujan menghangatkan kedua makhluk yang merindukan cinta. Cinta bukan milik manusia saja, ia milik semua makhluk yang bernafas. Berkelana, beristirahat, sehat ataupun sakit.

Hujan, ia milik semesta yang tidak pernah marah saat di bentak atau terlalu senang saat di rindukan. Tidak peduli langit lagi mencurahkan sumpah serapahnya kepada bumi, tidak peduli apa perasaan dan pikiranmu saat itu.

Di sela-sela hujan turun ada kehangatan untuk saling mendekap. Waktu untuk melupakan kekurangan dirinya sendiri ataupun orang lain. Karena hujan, dua sejoli berdekatan dan duduk bersampingan.

Satu-satunya waktu menghentikan laju manusia yang terburu-buru, bukan?

Hujan.

Satu-satunya waktu yang kurindukan hingga aku tidak mendengar apapun selain nyanyian hujan dan mencium wanginya yang bercampur tanah.

Friday, August 17, 2018

Bangun anganku

Aku menenemukan mereka.

Mereka ada di antara keramaian pusat kota Jakarta yang ramai dan penuh dengan kerlap-kerlip lampu kota. Indah dan memukau. Sosial yang berlalu lalang menghantui dan menginjak anganku. Membuatku rajin menonton dunia.

Aku baru menemukanmu.

Keluar dari lampu-lampu yang berdetak memecah belah kedamaian. Cerita penuh pertanyaan tanpa harus kita menemukan jawaban sekarang. Aku hanya ingin melangkah bersamamu. Membuatku rajin merajut impian.

Monday, August 13, 2018

Resolusi tahun 2018

Ga terasa udah masuk bulan ke delapan dalam tahun ini. Empat bulan lagi kita akan menyambut ke tahun 2019. Lalu apa yang terlintas?

Evaluasi akhir tahun?

Resolusi tahun baru?

Apa resolusi tahun 2018 mu? Punyaku penuh dengan impian dan keyakinan, membangun usaha kecil, rutin berolahraga, travelling ke kota-kota baru, explorasi dan jadi berkat buat sesama.

Rupanya apa yang aku usahakan bukan suatu hal yang mudah. Aku harus bangun lebih pagi, tidur lebih malam, berjalan lebih jauh dan mengurangi kesenanganku demi apa yang harus aku capai. Kalau aku jadi pohon, aku harus siap di terpa angin. Kalau belum, ya silakan, jadilah rumput yang diinjak-injak orang.

Karena bagiku hidup adalah anugrah dan kesempatan, jika kusia-siakan lalu apa yang berharga? Namun aku sadar, ada banyak hal yang tidak bisa aku raih dengan kekuatanku sendiri. Aku manusia tidak sempurna, lemah dan punya banyak rasa menyerah. Jika aku bersandar hanya dengan kekuatanku sendiri, lalu bagaimana masa depanku nanti?

“Tuhan tidak akan sekali-kali meninggalkan Engkau.” Maka dalam segala hal, baik yang terlihat mustahil dan yang sesederhana sekalipun, aku datang kepadaMu. Tidak ada yang lebih menenangkan selain bersandar padaMu.

Monday, August 6, 2018

Senjaku

Aku manusia yang mengejar matahari di kala pagi terburu-buru ingin cepat siang. Di keramaian orang yang duduk memejamkan mata, memisahkan mimpi dan realita mereka.

Tatapan sepuluh manusia lain yang bergegas mengejar materi. Jika aku dihadapkan oleh kebahagiaan atau tanggung jawabku, aku tidak tahu mana yang aku pilih. Tanggung jawab penting untukku, tetapi bahagialah yang membawaku tetap hidup.

Di jalanan kehidupan, aku sepatu yang dipakai untuk berlari tanpa harus tahu kemana pemiliku akan membawaku keluar rumah. Jika berlari di kota membuatku cepat tertidur, aku akan berlari setiap hari supaya aku cepat-cepat bertemu impianku. Sayangnya jalanan ini macet, berdebu, ada banyak tanjakan naik yang tidak mau turun, terik dan membakar.

Aku rindu senja yang menemani aku berlari, mendengarkan ceritaku seperti anak yang ingin tahu atau menenangkanku untuk tetap berlari jika aku terjatuh. 

Aku takut karena hidup ini sulit, tetapi jika aku tidak takut mungkin aku tidak hidup.