See myblog

Another Language

Monday, November 26, 2018

Hujan waktunya bermain

Mencintai awan harus mencintai hujan.

Andaikata aku bisa mengambil akal sehatku, menidurkannya, lalu pergi bermain. Tetapi angan tidak mau kuajak berpergian, ia lebih suka belajar dan mengejar impiannya sendiri. Aku akan menunggu sampai aku bosan, duduk di tepi jalan yang penuh dengan hujan. Menunggu reda, main hujan, menunggu lagi. Akankah hujan akan menidurkan tidur malamku atau membuatku terbangun gelisah?

Aku memilih hujan-hujanan sampai aku merindu-rindukan musim panas.

Thursday, November 22, 2018

Bau bau Desember

Daun mulai menghijau. Musim panas mengucap perpisahan dan mari berjumpa dengan hujan. Di perjalanan menuju kota ada burung-burung kecil yang berterbangan, kucing-kucing lucu yang berlalu lalang, jiwa-jiwa yang unik bergesekan.

Langit menatap ceritanya yang ia tulis bersama awan, saat matahari sibuk mencari perhatian.

Ada dengkur manusia yang berlomba lari dengan laju kendaraan. Padat dan berasap bukti tinta yang tertulis di slip gaji para pekerja.

Pohon tinggi akan segera dipasang, lagu-lagu ceria jadi pemenang di playlist anak muda dan kata-kata siap tidak tidur berebut membeli baju baru.

Thursday, November 15, 2018

Suatu pagi

Aku tidak bisa lihat apa yang tidak bisa aku lihat. Mungkin kemarin ia ada, duduk disampingmu, bernyanyi bersamamu. Tetapi hari ini belum tentu.

Perpisahan tidak pandai berhitung, kejadian tidak pandai memperingati. Penyesalan yang mencuri waktumu dan kata siap selalu hilang setiap ia ditemukan.

Kembali, pulanglah. Aku tidak bisa memintamu.

Sunday, November 11, 2018

Rumah-rumah palsu

Aku tidak tahu cara terbaik untuk pulang. Mengikuti pesisir pantai mungkin? Rumahku terlihat, tetapi berjalan menyusurinya tidak mendekatkan. Duduk menunggu ombak bergulung sampai bosan atau rumah adalah senandungmu yang memenuhi kepalaku.

Aku tidak tahu caranya untuk pulang. Hutan yang gelap dan dingin dengan jalan setapaknya malah menyesatkanku atau menemui segera adalah rumahku.

Aku tidak tahu cara untuk pulang. Malam dengan bintang atau memimpikanmu adalah rumah yang diam-diam kusembunyikan.

Aku tidak tahu cara terbaik untuk pulang. Ternyata tidak ada rumah, tidak ada tempat untuk bersandar. Aku tidak tahu caranya untuk pulang, mungkin saja berpergian adalah rumahku.