See myblog

Another Language

Thursday, November 15, 2018

Suatu pagi

Aku tidak bisa lihat apa yang tidak bisa aku lihat. Mungkin kemarin ia ada, duduk disampingmu, bernyanyi bersamamu. Tetapi hari ini belum tentu.

Perpisahan tidak pandai berhitung, kejadian tidak pandai memperingati. Penyesalan yang mencuri waktumu dan kata siap selalu hilang setiap ia ditemukan.

Kembali, pulanglah. Aku tidak bisa memintamu.

Sunday, November 11, 2018

Rumah-rumah palsu

Aku tidak tahu cara terbaik untuk pulang. Mengikuti pesisir pantai mungkin? Rumahku terlihat, tetapi berjalan menyusurinya tidak mendekatkan. Duduk menunggu ombak bergulung sampai bosan atau rumah adalah senandungmu yang memenuhi kepalaku.

Aku tidak tahu caranya untuk pulang. Hutan yang gelap dan dingin dengan jalan setapaknya malah menyesatkanku atau menemui segera adalah rumahku.

Aku tidak tahu cara untuk pulang. Malam dengan bintang atau memimpikanmu adalah rumah yang diam-diam kusembunyikan.

Aku tidak tahu cara terbaik untuk pulang. Ternyata tidak ada rumah, tidak ada tempat untuk bersandar. Aku tidak tahu caranya untuk pulang, mungkin saja berpergian adalah rumahku.

Tuesday, November 6, 2018

Hujan kemarin

Hujan lelah jatuh di balik jendela kota Jakarta yang hiruk pikuk. Bis mengalunkan lagu cinta yang membuat hujan malas menyusup mendengar. Mata yang lelah melihat kerlap kerlip lampu kendaraan. Senja sudah terlewat tanpa sempat hujan nikmati. Langit sudah gelap, pencarian mana yang bisa ditemukan jika hanya ada gelap?

Rintik hujan menyapu debu-debu kecil yang berdansa di panas kota tadi siang. Menyisakan rindu bau harum hujan. Hujan berlari menembus angin, terlelap sebelum malam dan bangun sebelum pagi.

Rintik hujan di pinggir jendela bis kota tertinggal dan besok disapu hilang. Tidak berbekas, tidak diingat lagi ada hujan kemarin.

Friday, November 2, 2018

Hijau daun

Daun berterbangan dari pohonnya. Segimanapun ia terbang atau ke arah apapun ia melaju, pada akhirnya ia akan terhenti dan jatuh. Kadang jauh dari pohonnya, kadang dekat. Ia gugur dan berjatuhan, yang hijau akan jadi kuning kecoklatan dan hilang terinjak-injak kembali jadi tanah.

Hidup seperti daun. Kalau tidak disiram ia akan cepat layu, tidak ada pupuk ia tidak akan tumbuh subur. Jika banyak benih kebencian ia akan di cabut lalu mati. Tetapi daun dengan akar yang kuat, nutrisi yang cukup akan berbunga dan menari walaupun mentari hanya diam-diam mengintip ke bumi.

Di pekarangan rumah, si pemilik mengatur tumbuh daun dari tanaman kesukaannya. Merapikan daunnya, mencabut yang kering, mengatur laju tumbuhnya. Tetapi, daun tidak sengaja berbelok. Keluar dari batas itu, pergi ke arah berlawanan. Karena laju yang diatur pemiliknya terlalu rumit dan tidak mungkin. Ia mencari jalan sendiri dan matahari mendukungnya.

Bertumbuh hijau dan penuhilah kota.