See myblog

Another Language

Sunday, June 18, 2017

Belajar bercermin

Percaya gak?

Lebih mudah untuk berbuat baik bagi seseorang yang adalah nyata. Orang-orang itu jelas terlihat. Orang-orang itu melakukan kebaikan yang jelas terlihat, jadi kalau kita ikut balas berbuat baik itu wajar. Orang-orang ini kusebut fasih mengekspresikan perasaannya.

Baru saja aku sadari belakangan ini. Sulit bagiku untuk jujur terhadap sesuatu yang ga terlihat. Apa yang akan aku lakukan kalau aku ini sendirian? Kalau aku tidak lagi bersama dengan orang lain, kalau aku harus jujur memberikan dengan tulus.

Kalau aku di depan orang bilang tidak, tapi dibelakangnya aku masih iya dan tidak. Kalau aku bilang jangan buang sampah sembarangan, tapi kalau aku riweh sendiri mungkin aku akan buang diam-diam. Misalnya itu yang sederhana.

Kalau aku tahu sebuah keharusan tapi kalau aku sendiri tanpa orang lain ada disekitarku, mungkin aku masih ragu-ragu.

Maafkan aku, aku masih sulit memberi dengan sebaik-baiknya dengan diam-diam. Bagiku, segala sesuatu yang dilakukan dengan diam-diam itu adalah sebuah kejujuran. Jujur dengan diri sendiri.

Tanpa ingin pamer, tanpa ingin dinilai orang, dan tanpa perasaan ingin mencuri sedikit kemuliaan.

Seperti pertanyaan Sang Pencipta untukku. Siapakah namamu?

Jakarta,
mari bercermin

Thursday, June 15, 2017

Pulang ya, Dek

Kira-kira waktu udah berlalu dua jam lebih dari waktu buka puasa. Bunyi klakson yang memekak telinga, kendaraan beradu satu sama lain, si tukang nyelip motor juga tidak mau mengalah. Rupanya jalanan pulangku riuh dengan kemacetan, hampir setiap malam.

Lampu merah, kepadatan dan suasana orang berebut untuk pulang rupanya sudah terekam dalam ingatanku. Belum lagi mata yang lelah tujuh jam perhari menatap layar laptop yang udah berusia, kadang ditemani sama lagu-lagu spotify pilihan yang sebenarnya itu-itu aja.

Maka kakiku berjalan ditemani lampu kota malam, yang hampir tidak pernah tertidur dengan nyenyaknya dan kurang suka beristirahat. Berjalan lalu mampir ke toko serba ada, yang menciptakan ruang untuk sekelompok orang bertemu dan menjalin relasi. Selamat datang, terima kasih. Sebuah kata yang diucapkan tiap kali aku masuk dan saat aku melaju keluar.

Sama halnya dengan di gang besar aku jarang berucap kata. Mereka mungkin sibuk di dalam rumah. Mungkin ada yang sedang asiknya baca koran, menonton televisi, atau sibuk menjalin hubungan di dunia maya. Sebulan ini, aku sedikit harus memutar untuk sampai di rumah. Aku melihat rumah yang dapurnya ada di luar, ada akuarium mini di samping jalan gang itu. Ada empat anak yang duduk-duduk di depan rumah sambil ketawa ceria sambil main hpnya, ada dua bapak nonton bola bersama. Ada seorang ibu-ibu yang sedang duduk di depan pintu rumahnya.

Lalu aku sapa Ibu itu sambil tersenyum kecil, "Malam Bu."
Ibu membalasku "Pulang ya, Dek."

Sederhana ya. Tapi bagiku sejuk. Nyaman. Kepenatan jalanan kota Jakarta dicampur kelelahanku untuk sebentar boleh redup, diganti dengan anggukan dan senyuman tulus.

Ini hanya sebagian ruang di sepanjang jalan aku pulang.

Jakarta,
Malam hari pulang ke rumah

Monday, June 12, 2017

Lana dan Nala

Aku pernah meminta, langit supaya memberi aku sedikit angin untuk aku mengepakan sayap. Sedikit saja, aku tidak berminat terbang sampai melebihi awan-awan. Aku hanya ingin menjadi burung kecil, yang tidak pernah jauh dari kawanannya, yang bersiul walaupun pagi itu belum mengumpulkan makanan, yang menari saat mentari dan senja mulai menyapa.

Hari ini terjadi, mungkin doaku waktu itu diiringi dengan ribuan bintang di langit yang menyerbu bumi. Dan, ada satu bintang yang mengabulkan permintaanku.

Aku ditumbuhi bulu. Kusentuh, ternyata halus, antara satu dengan yang lainnya berdekatan hampir tak berjarak. Bibirku, hmm, bukan, rasanya kurang pas, maksudku paruhku kecil. Rupanya aku tahu, pasti biji-bijianlah yang akan jadi makananku, atau buah-buahan, entahlah aku belum lapar.

Rasanya agak sulit berjalan seperti layaknya manusia. Tidak mau digerakan maju dengan ancang-ancang layaknya aku mau berlari menerbangkan layangan. Untuk apa berjalan kalau hari ini aku bisa terbang. Badanku yang kecil aku ajak melompat. Aku burung kecil, berbulu biru bercampur merah muda keunguan, buatku sempurna.

Oh, aku begitu sempurna ketika langit memberikan aku kesempatan untuk bebas dan menari di udara.

Kriett... Dengan susah payah aku mendorong jendela kamarku, Mentari sudah bangun lebih awal ternyata. Hampir saja aku kesiangan, langit berwarna jingga yang terang. Entah apa yang terpancar dari raut seekor burung kecil. Ibarat aku manusia, rasanya aku sudah tersenyum dengan kedua pipi penuh kemerahan.

"Selamat pagi!" Tentu saja bukan sapaan yang keluar dari paruhku, hanya siulan tidak bernada. Hei, maaf bukannya aku mencoba menceritakan dunia dengan hiperbola. Tapi andai saja aku tidak sendirian, aku akan berceloteh sama halnya seperti teh di pagi hari yang menjadi kawan baikku.

Kukepakan sayap tanpa menunggu lebih lama. Tujuan pertamaku menapak di ranting pohon mungil. Itu pohon yang aku tanam karena ibu tidak suka melihat aku merengek ingin memelihara anak anjing. Dan, aku berhasil! Memang naluri seekor burung tidak pernah salah. Atau ini adalah hal lain, anugrah yang sudah langit bungkus dengan rapihnya. Kusentuh daunnya, kuelus sambil kutatap tajam seratnya, hijau seakan membawa damai, dan baunyaa... Humm, harum, sepertinya daun ini sudah terbiasa bersatu dengan embun pagi.

"Aku terbangggg..." Ternyata begini mungkin rasanya naik pesawat. Seperti menembus awan, seperti melawan waktu yang bergerak lambat. Aku, si burung kecil yang baru belajar mengepakan sayap menutup mata, sambil-sambil mencoba mengintip. Kadang aku menengok ke belakang, memastikan apa sayapku sudah sama tinggi atau rendahnya. Ah, masa bodo dengan itu, mengapa harus seimbang, mengapa tidak satu di atas dan satunya lagi berada sedikit dibawahnya.

Rumahku ternyata sudah tertinggal dibelakang. Dengan cat berwarna pastel rumahku tampak tak begitu cerah, sayup namun aku tidak bisa bilang rumahku itu tidak nyaman. Hanya saja, mungkin, tidak secerah mentari pagi yang menjingga-kan langit dan hariku hari ini.

"Hei." Terdengar sapaan yang membuyarkan pikiran kecilku. Burung dengan bulu berwarna coklat bercampur hitam membalapku. Tunggu, warnanya seperti, hmm, seperti dreamcatcher yang aku pajang di tembok kamar.

"Panggil aku?" Kutengok ke kiri lalu ke kanan.
"Iya kamu. Aku Nala."
"Aku...Lana."

Kami seperti saudara yang terpisahkan, atau seperti. hmm.. Aku tidak tahu, tidak mau pula aku menebak-nebak. Yang jelas Nala seperti saudara. Ia menemaniku mengganggu kawanan kupu-kupu. Atau menemaniku menghisap nektar, manis rasanya seperti madu yang murni, tidak diganggu atau di proses sampai manisnya terasa palsu. Aku merasakan hidup, sungguh, disaat mentari membukakan mataku, lalu, tidak pernah bosan-bosannya atau lelah aku untuk menutup mata. Aku melombat sesuka hatiku, berputar sampai aku dan Nala puas. Menyanyi walaupun suaraku tidak indah, mengepakan sayap walaupun masih banyak burung cantik yang lebih indah terbang di atasku.

Tidak masalah. Bagiku benar tidak apa. Cukup. Aku cukup melompat lalu naik, ataupun terbang mendaratkan kaki kecilku pada batang ranting. Atau berlarian ketika kucing-kucing, yang dulu kuanggap manja, sekarang bagaikan kucing nenek sihir jahat, mengerjar kami.

"La.. Aku capek, kita istirahat dulu ya."

"Iya, aku juga lumayan nih. Perutku buncit. Tadi kebanyakan makan pisang."

"La, kamu kan, hmm.. Jantan, kok namamu Nala? Seperti nama perempuan."

"Lengkapnya itu Nalendra. Terlalu keren ya. Nalendra itu artinya kesatria. Mungkin ayah ibuku ingin aku gagah seperti kesatria. Tapi sekarang aku hanya burung kecil, yang tidak bisa terbang terlalu tinggi. Yang makannya buah-buahan atau nektar. Di mana ya sisi kesatria itu."

"Hmm.. Di hatimu." Aku cengir, ini bukan lelucon-lelucon di media sosial, hanya cengiran setengah serius yang mungkin tidak terlihat seperti cengiran burung kecil. "Seekor burung kecil bisa saja punya hati segagah burung elang. Hatinya dan mentalnya, La. Mungkin ayah ibumu mau kamu punya hati seperti kesatria. Hebat kan!"

"Makasih Na, iya mungkin seperti itu. Semoga aku kelak jadi seekor burung dengan impian yang kuat, membusung di dada."
Iya, Nala. Semoga nanti saat kita bertemu lagi, kesatria itu ada didalam kamu.

"Kamu, Lana? Cerita sedikit tentang kamu."

Aku terdiam sejenak. Tidak pula menatap Nala.
"Aku seekor burung yang baru belajar terbang, La. Namaku? Tidak tahu asal usulnya, mungkin hanya kata yang terpikir oleh ayah maupun ibuku. Aku tidak tahu tentang siapa aku, hanya tahu apa yang aku sukai, apa yang aku ingini, apa cita-citaku."

"Seekor burung punyakah sebuah cita-cita?"

"Kenapa tidak?"

"Ya, kenapa tidak. Lalu, apa cita-citamu Na?"

"Bebas, terbang, seperti kamu. Berlari seperti menari, berlari mencari mentari, bermain dibawah pelangi. Lalu aku akan merajut apa yang ingin aku rajut. Bukankah kehidupan itu bebas, Na? Iya ga, kamu bebas memilih dari pilihan-pilihan yang ada. Kamu memilih jadi seekor burung dengan kebanggaan, atau seekor burung dengan jiwa pengecut..." "Maaf, aku hanya terlalu bersemangat! Eh, dahimu itu, La, jangan diangkat tinggi gitu, nanti ga ada yang naksir sama kamu. Jelek."

"Na, kamu kan tadi lagi serius. Haha. Iya-iya, aku juga mau punya impian sama kayak kamu ah. Apa ya?" Sayap kanannya diangkat ditempel di kepala yang dimiringkan, lalu sambil memejamkan mata.

Lana menyentuh dada Nala. "Pakai ini."

Nala membuka mata, lalu tersenyum kecil. "Na, satu hal, kamu boleh terbang, tapi ingat untuk selalu pulang, yah?"

-----

"LANAA.. Kesini sebentar."

"Sebentar, Ayah.." Lana menuruni tangga lalu dengan rambut masih setengah acak-acakan dan mata mengantuk menyahut, "Ada apa, Ayah?"

"Ayah mau pergi jemput ibu, kamu tolong tutupin pintu ya."

"Baik, Ayah."

Mobil Ayah menjauh, Lana berbalik.

"Nala! Kamu ngapain di sini?" Seekor burung kecil berwarna coklat kehitaman terbang menghampiri. Nala bersiul-siul sambil terbang seakan kegirangan.

"Kamu, ngenalin aku?" "Aduh, Nala, maaf ya aku ga cerita soal aku ini sebenarnya... manusia." Eh tunggu, apa jangan-jangan kemarin hanya mimpi? Tapi, kenapa... Ah tidak tahu.
Nala bertengger di bahuku. "Dasar Nala. Aku seneng ketemu kamu lagi."

Nala bersiul-siul lalu terbang mengepakan sayap sambil berputar mengelilingi wajahku. "Hmm.. Ini dari gelagatnya, kamu mau ngajak aku jalan ya. Mumpung mentari masih belum keluar, Yuk kita sama-sama cari. Supaya aku sama kamu jadi dua makhluk pertama yang menyapa mentari dengan ceria."

Lalu dari kejauhan terlihat sosok seekor burung dan seorang gadis berlari setengah menari sambil berbagi ceria.

-----

Lana dan Nala (2015)
Cerita untuk seorang teman yang berulang tahun

Friday, June 2, 2017

Satu satunya yang kusebut Papa

Teringat ayah.

Yang badannya sudah tidak tegap lagi, rambutnya sedikit dan sudah putih. Papa sering ngeluh kakinya sakit. Papa yang tiap malam mencariku kalau aku belum pulang.

Papa yang selalu ingatkan aku supaya ga tidur malam, rajin olahraga, jangan baca buku dekat-dekat, jangan duduk kelamaan di depan laptop, lampunya diterangin, cari cowok yang benar dan baik.

Kata orang rumah aku anak kesayangan papa. Aku yang suka kelayapan kalau ada hari besar jadi ga bisa ngumpul bersama papa. Aku yang kadang pura pura sibuk jadi banyak alasan untuk ga bantuin papa.

Teringat papa yang hari ini, sehabis rusuh kecil, malam ini papa bilang padaku.
"Papa dagang apa lagi ya." Diusianya yang ke tujuh puluh.
"Pa, papa udah cukup berjuang kok untuk aku, untuk mama dan untuk sekeluarga ini."

Pa, aku udah besar, aku ga mau ini dan itu lagi. Papa udah cukup mendidik dan membesarkan aku.

Aku betul betul ingin membahagiakanmu, melihat papa bahagia karena aku. Papa lihat kami bertiga jadi anak yang berhasil, papa lihat kami jadi anak yang baik, yang sayang sama papa dan mama.

Papa yang sering ditanya, 'Cucunya ya om' kalo lagi jalan sama aku. Pa, aku janji. Aku akan selalu mendoakanmu, dan doakan aku supaya aku bisa membahagiakanmu.

Di pelupuk mataku ada air mata yang mengalir karena percakapan malam ini. Aku mengasihimu pa.

Jakarta,
Rumah.