See myblog

Another Language

Thursday, August 27, 2009

artikeel lombaaa

Jadi, ceritanya bulan Februari ato Maret yang lalu, pas lagi pelajaran BI, ada ade kelas yang dateng terus nawarin lomba ke Ibu Guru BI, lomba apa ya namanya, hehe, kalo gak salah lomba menulis artikel, sama ada juga lomba debat pake bahasa Inggris.

Pertama Beliau nawarin satu kelas, siapa yang mau ikut. Tapi emang dasar pada males, gk ada yang mau ikutan. Terus mentang-mentang aku duduk tuh di depan meja guru, jadi di depan si Ibu Guru duduk, nah si Ibu tiba-tiba manggil "Inggrid, kamu ikutan aja tuh coba-coba. Menang gk menang gak papa, yang penting kan udah nyoba." Kaget. Haha, apa-apaan nih lomba gk berani. "Kan sekali-sekali selama 3 tahun jadi kamu ikutan lomba di sekolah." Gitu si Ibu bilang begitu. Pertamanya aku nolak, "Ah gak bisa Bu, saya gk ngerti." Eh temen sebelahku bilang, "Pung, gw mau ah ikut coba-oba, kalo gw ikut u mau ikutan gk?" Haha, emang dasar plin plan dan gampang terhasut, yadeh akhirnya kita bolos pelajaran terakhir yaitu pelajaran matematika yang susah itu, buat ikut tekmit siang itu juga. Parah ya tuh lomba mendadak banget.

Nah, kita ber5 kalo gk salah naek taxi dibayarin si Ibu, ke tempat tekmitnya, rada jauh sih, hehe, daerah Menteng sana kalo gk salah inget. hehe. sampe disana, yang aku inget tuh kita dapet makanan haha, dapet kue dan minuman. nah itu makanan cepet bener aku abisinnya. ternyata yang ikut lomba gk banyak2 amat, jadi cuma sedikit pesertanya. Aku ikutnya lomba menulis artikel ekonomi kreatif. Jadi ada 3 subtemanya gitu, ada "Bangga produk dalam negeri", "Wirausaha", sama satu lagi lupa, hehe. aku pilih yang bangga produk dalam negeri dong. paling gampang kayanya. dan deadline nya itu masih rada jauh, tapi aku musti buat jauh2 hari buat di koreksi sama si Ibu.

Tantangan2 nya, itu tuh lagi TO, kedua aku dan temen ku itu selse nya mepet, buatnya sih ud jauh-jauh hari, tapi kaga selesai2 juga gk ada ide. hehe. Dan lomba bgitu tuh ribet, musti minta tanda tangan kepala sekolah, ttd guru pendamping gitu deh. kan seharusnya guru pendampingnya tuh Ibu Guru BI, tapi karena berhubung itu hari sabtu dan sekolah libur dan rumahnya di Bekasi ato Bogor? lupa, kan jauh tuh, akhirnya cari alternaitf lain, mau minta sama guru ekop, nah dasar si ibu kaya gk seneng ato gk mau gitu, si guru itu menolak, dan akhirnya minta sama guru matematik. gk nyambung kan? haha, emang. jadinya aku ke gereja si Bapak matematika pas esok harinya, jauh-jauh demi tandatangan nya. ya ampuun. oiya mana ke rumah kepala sekolah juga buat minta ttd, nah itulah perjuangankuu. udah hopeless? bangett..

Dan pengumpulan artikel tuh dibatesin, kira2 maks 2 lembar ato halaman ya? gk bisa bedain, tapi aku ampe 4, nah belom sempet di edit musti dikirim. Nah loh, gawat kan. terus mana ribet musti gabung2 sama artikel temen. Padahal tuh artikel aku kalo dipikir2 ya udah gagal dong, diluar syarat. Eh untungny si Ibu penerima artikel bae, katanya gapapa lah. :) lega

Nah inilah isi artikel kuu. hehe, yang ud dilombakan :)

Mengayuh Perahu Impian Menggapai yang Pasti

Sebagai negara yang kaya akan kreasi, budaya dan alamnya, adalah sebuah keharusan bagi setiap bangsa untuk menunjukan kebanggaannya. Namun sayangnya Bangsa Indonesia belum dapat mempraktikan rasa kebanggaannya secara utuh, terutama akan produknya sendiri. Apakah karena produk yang dihasilkan oleh produsen dalam negeri belum gencar memproduksi produk baru yang lebih menarik, yang dapat bersaing dalam pasar dalam negeri? Mungkin ya, sebagian rakyat membeli atau mengkonsumsi produk dalam negeri karena harganya yang lebih murah, sehingga mudah dijangkau. Namun, apakah itu yang disebut kebanggaan? Tentu saja bukan.

Padahal saya yakin, didalam benak kita masing-masing, kita sebagai masyarakat Indonesa bercita-cita untuk bersuara, ”Kami bangga dengan Indonesia. Karenanya kami bersatu bersama-sama melakukan yang terbaik untuk Indonesia.” Oleh karena itulah saya membuat artikel ini, supaya masyarakat Indonesia, khususnya kaum muda Indonesia yang tergerak mewujudkan cita-cita bersama, namun belum mengetahui bagaimana cara untuk mewujudkannya bisa menemukan suatu cara yang nantinya akan membawa negeri kita menuju hari depan yang lebih cerah.

Ada sebuah cara untuk mengubah nasib negara Indonesia, yaitu dengan mewujudkan ekonomi kreatif. Mungkin hanya sebagian kecil dari masyarakat yang tahu apa itu ekonomi kreatif, dan sayangnya hanya sebagian kecil dari mereka yang tahu yang menyumbangkan kreasinya dalam ekonomi Indonesia, yang secara langsung dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap tanah air kita sendiri.

Menurut John Howkins dalam The Creative Economy: How People Make Money From Ideas, ekonomi kreatif diartikan sebagai segala kegiatan ekonomi yang menjadikan kreativitas (kekayaan intelektual), budaya dan warisan budaya maupun lingkungan sebagai tumpuan masa depan. Mewujudkan ekonomi kreatif artinya mewujudkan industri kreatif. Sedangkan industri kreatif itu sendiri merupakan industri original yang mengutamakan nilai kreativitas, skill, bakat dan memiliki potensi untuk pendirian lapangan pekerjaan. Ya, ekonomi kreatif pada negara-negara maju seperti Inggris dan Singapura mampu bersaing dengan sektor pertanian, industri, dan informasi.
Bentuk dari penerapan ekonomi kreatif tidak hanya terbatas pada pembuatan produk untuk diperdagangkan. Ekonomi kreatif juga dapat diterapkan pada bidang seni, perfilman, periklanan, penerbitan dan percetakan, arsitektur, desain, televisi/radio dan lain sebagainya. Semuanya itu merupakan subsektor dari ekonomi kreatif itu sendiri.

Saya yakin didalam diri rakyat Indonesia, mereka yakin mereka mempunyai bakat dan potensi yang sangat baik, mereka adalah orang-orang yang kreatif, mereka menciptakan ide yang brilian, mereka dapat menghasilkan karya yang luar biasa, dan mereka sanggup untuk bersaing didalam dunia perdagangan. Sayangnya, sebagian dari mereka belum berani menunjukan karya untuk bersaing dengan produk-produk luar.
Ada banyak manfaat dibalik pelaksanaan ekonomi kreatif. Selain bertujuan menciptakan rasa bangga akan produk sendiri, pewujudan dari ekonomi kreatif mampu mengurangi tingkat kemiskinan, mengurangi ketergantungan yang berlebihan dengan negara lain, serta yang terutama adalah mengembangkan dan membangun perekonomian di negara kita yang kemudian akan menambah pendapatan nasional. Setiap negara pastinya sanggup menjadikan ekonomi kreatif sebagai aspek penambah pendapatan nasional, maka saya pun menyadari bahwa negara kita mempunyai peluang yang sama untuk mengwujudkan pembangunan ekonomi nasional.

Dari hal yang telah saya paparkan sebelumnya, saya sadar tidaklah sesederhana itu untuk merealisasikan produk ekonomi kreatif yang kita dambakan melalui industri kreatif. Menurut saya ada beberapa hambatan dalam mewujudnyatakan ekonomi kreatif, yang pertama adalah minimnya sosialisasi ekonomi kreatif. Beberapa upaya untuk mengatasi tantangan tersebut adalah dengan mengadakan seminar khususnya untuk kaum muda Indonesia, penerbitan buku-buku yang terkait dengan ekonomi kreatif, ataupun melalui penyelenggaraan lomba menulis artikel tentang ekonomi kreatif.

Tantangan yang kedua adalah kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan industri kreatif. Untuk mewujudkan ekonomi kreatif tentunya diperlukan kreativitas. Seperti yang kita ketahui, kreativitas tidak dapat muncul dengan sendirinya. Mungkin saja kreativitas itu muncul dari bakat alamiah seseorang, namun hal seperti itu sangat jarang terjadi. Oleh karena itu, diperlukan usaha dari pemerintah untuk menyediakan sarana prasarana untuk mengembangkan kreativitas kaum muda Indonesia. Misalnya dengan diadakannya kursus kesenian dan keterampilan yang dapat membangkitkan jiwa kreativitas. Kursus tersebut dapat berupa kursus melukis, kursus kerajinan tangan, kursus komputer, kursus menjahit, kursus desain, maupun kursus tari. Kursus tersebut dapat pula membantu kaum muda yang tidak menyadari kepintaran dan bakatnya. Maka itu tujuan akhir didirikannya kursus-kursus antar lain supaya para kaum muda dapat menuangkan segala macam ide kreatif yang sebenarnya sudah ada didalam pikirannya, namun belum direalisasikan dalam bentuk nyata. Dengan kata lain, jika rakyat Indonesia secara khusus mengembangkan dan memanfaatkan setiap potensi dalam dirinya, saya yakin bangsa Indonesia yang penuh dengan ide-ide brilian mampu membangun bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik lagi.

Tantangan ketiga adalah daya saing produk kita yang masih rendah, baik di pasar domestik maupun internasional. Untuk menciptakan daya saing, ekonomi kreatif yang saya harapkan bukan sekedar sebuah kreasi yang desain luarnya menarik, karena semua negara mampu menciptakan industri kreatif yang seperti itu. Tetapi dibalik kreasi desain luarnya, hasil ekonomi kreatif didalamnya mengandung suatu nilai yang lebih. Saya ambil contoh sepatu corak batik, selain menampilkan produk baru yang unik, tetapi juga menimbulkan rasa bangga terhadap batik sebagai budaya asli Indonesia. Saya juga menyarankan agar produk kreatif yang dihasilkan oleh kaum muda memiliki lebih dari satu kegunaan (multifungsi). Apabila kaum muda Indonesia dapat menghasilkan produk seperti itu, tentu produk asli Indonesia dapat bersaing di kancah perdagangan lokal maupun mancanegara.

Tantangan keempat adalah hasil karya dari ekonomi kreatif belum dipatenkan dan dipublikasikan. Walaupun kreativitas tersebut sudah diwujudkan dalam bentuk nyata, tetapi itu belum cukup jika belum dipatenkan dan dipublikasikan ke masyarakat luas. Hasil karya tersebut belum dapat memberikan pengaruh berarti pada sektor ekonomi negara. Oleh karenanya, hal selanjtnya yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah mempatenkan dan mempublikasikannya. Ada berbagai cara untuk mempublikasikan hasil karya, misalnya dengan mengiklankannya di televisi, radio, koran/majalah, spanduk, brosur, internet, dan berbagai media lainnya. Hal ini bukanlah sebuah hal yang sepele karena kita dapat menggunakan media tersebut untuk memasarkan karya kreatif kita. Selain menggunakan media yang telah saya sebutkan, pemerintah maupun pihak swasta juga dapat mengadakan pameran dibidang ekonomi kreatif yang secara khusus memamerkan hasil karya kaum muda. Pameran yang diadakan janganlah hanya di tempat khusus seperti galeri seni, karena hanya sedikit orang mau mendatangi galeri seni khusus untuk melihat karya seni. Hal ini dikarenakan masih rendahnya penghargaan terhadap dunia seni. Pameran ekonomi kreatif tersebut dapat juga dilaksanakan di tempat ramai seperti mal, universitas, sekolah menengah atas, dan tempat-tempat tertentu lain yang memungkinkan adanya pameran.

Untuk menambah antusias masyarakat di bidang seni, universitas-universitas, pemerintah maupun pihak swasta lainnya dapat mengadakan lomba-lomba dibidang ekonomi kreatif. Lomba-lomba tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasa penghargaan masyarakat akan hasil karya bangsa khususnya dibidang ekonomi kreatif. Lomba-lomba tersebut dapat pula menjadi ukuran untuk mengetahui seberapa besar tingkat kreativitas kaum muda Indonesia.

Ya, dalam pelaksanaan industri kreatif pasti selalu ada tantangan, tetapi saya yakin Indonesia mampu mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Jika sebagian besar rakyat tergerak untuk menghasilkan beberapa industri kreatif, maka hasil produksi akan tersebar luas dan rakyat yang belum menghasilkan produk kreatif dapat ikut berkarya. Pada akhirnya, seiring berjalannya waktu rakyat Indonesia akan semakin bangga akan produk tanah airnya sendiri.

Saya menyadari setiap kita mempunyai impian-impian tersendiri. Untuk mewujudkannya, kita berusaha menentukan jalan hidup kita sendiri. Begitu pula dengan mewujudkan impian negara kita. Kita tahu apa yang kita ingin wujudkan, dan sekarang saat untuk memulainya. Dengan mengayuh maju, kita mampu mengedepankan perahu. Dengan selangkah maju, kita mampu mengubah bangsa. Mulailah berkarya, mulailah mencintai dan bangga atas karya kita sendiri, dan mulailah membangun negeri kita bersama!

No comments: