See myblog

Another Language

Monday, November 26, 2012

ketika waktu mengingatkannya, lagi

Dia hanya menunduk resah
mengapa detik waktu lambat sekali
menunduk tanpa memandang
mendengarkan tapi tak ada yang mengganggap

Dia lelah menengok waktu
berharap waktu berlari untuknya
ia tak berharap wajah itu memandang sambil tersenyum
itu mustahil
hanya sebuah harapan tiada tercapai

Dia menjerit
apa tak dapat terdengar dari atas sana?
luka harus tetap ia jalani
rasa yang tak akan pernah berakhir

Apa ini sebuah takdir untuknya?
berada dalam kemunafikan
kesendirian dalam paduan tawa
ketidakmengertian dalam keputus asaan

Maafkan dia untuk satu dosanya
apakah mendosai diri sendiri lebih baik
dibanding mendosai yang lain?

Tiada yang salah
selain hatinya yang tak mampu menerima
selain hatinya yang tak mampu menengok ke bawah
karena ia sudah di bawah
tergeletak bukankah takdirnya?
meratapi dalam diam
merajut keheningan
namun hatinya tiada pernah berhenti memohon
hatinya tiada pernah berhenti beralih
sebuah harapan tawa itu menjadi miliknya
dimana ia berada, diatas atau di dasar sekalipun
tawanya utuh tangisnya penuh syukur

No comments: