See myblog

Another Language

Monday, January 14, 2013

Ketika Cinta


Ingin ku sapa kamu yang hanya duduk melamun. Tatapanmu kosong, seorang diri ditengah kerumunan orang. Apa yang sedang kamu lakukan disini? Sendiri ditengah kesibukan orang berlalu lalang. Kuamati kamu sekali lagi. Ya? Apa aku tak salah melihat? Kamu menangis.

Kamu duduk sendiri, melipat tanganku seakan kamu sedang berdoa menurut keyakinan mu, yang sama dengan keyakinanku. Kamu tak sekalipun tersenyum. Disamping tubuhmu yang mungil, dan rambut mu yang terurai, kamu menunduk, seakan menyelipkan wajahmu agar tak seorangpun mencuri pandang kearahmu.

Apa lelaki itu lagi yang menyakitimu? Membuatmu meneteskan air matamu? Sudah pernah kukatakan padamu untuk menjauh darinya, berulang kali namun kamu tak mendengarkan, ia tak pantas untukmu. Ia lelaki yang hanya mengubar janji, membiarkan angan dan impianmu sampai kelangit, namun bulan demi bulan berlalu, kini saat kamu bersamanya, yang kulihat dari wajahmu hanya lesu dan letihmu. Apa kamu baik-baik saja?

Sosok yang baru saja kusalah-salahkan duduk disampingmu. Lelaki itu tak tersenyum, dan tak memulai pembicaraan. Ia hanya setia duduk, mungkin ia terlalu setia dalam keheningan. Kau pun hanya duduk, melengoskan pandanganmu dari lelaki itu sesekali. Ayo, aku hanya ingin menyemangatimu dari jauh. Kamu harus berani mengungkapan apa yang kamu rasakan, bukankah cinta bukanlah sebuah keterpaksaan dan kebohongan?

Tetapi bukannya kau angkat bicara, lelaki itu kemudian mengapus air matamu, memelukmu kecil, dan kamu hanya diam, selibat aku melihat senyum kecilmu. Apa hatimu sekarang lebih baik? Setelah lelaki itu mendekapmu? Ya, lelaki itu, bukan aku.

Semenjak dulu, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan, memandangi wajahmu, memanjatkan doa setiap malam mendoakanmu. Bukankah tidak ada kata terlambat. Aku ingin mendekapmu sekarang, menghapus air matamu, menyediakan bahu untukmu bersandar, bernyanyi untuk menghiburmu. Ya, sekarang waktu yang tepat.

Aku pun berjalan dari tempat persembunyianku memperhatikanmu, kuberanikan diri duduk di sampingmu, yang masih dalam pelukan lelaki itu. Aku menarik lengan lelaki itu, menghempas, namun yang kuhempas angin. Dan tak bergeming, kamu masih dalam dekapan lelaki itu. Aku disini, apa kamu tak melihatku?

No comments: