See myblog

Another Language

Friday, February 14, 2014

Abu.

Dia abu,
Dia pun debu.
Tak hitam, tidak juga putih.

Mengapa ada yang merah diantaranya?
Kecil. Setitik. Tak berbentuk. Juga tidak beralasan.
Tidak merah yang menggebu.
Tidak juga merah yang mengantuk.
Merah yang biasa.
Namun berdetak, namun bernafas.

Kecil. Setitik.
Namun erat, merah yang mencolok.
Merah yang mengganggu penglihatan si abu.
Merah yang mengacaukan perasaan si abu.
Merah yang menarik abu, menjadi abu merahan.
Abu yang menjijikan.
Abu yang bukan lagi antara putih dan hitam.

Dia abu.
Harusnya sanggup menjauhkan merah.
Dia abu.
Harusnya ia kuat walau tak sekuat hitam.
Harusnya ia meninggalkan putih yang lemah.
Dia abu.

Dia debu, terinjak sampai tak berbekas.
Terlempar dan dibawa merah sampai ke pinggir.
Dua pilihan.
Dia punya pilihan.

Menjadi abu yang tetap bukan putih atau hitam.
Atau melebur menjadi abu yang kemerahan.

Jakarta,
Pergilah sebentar, Merah.

No comments: