See myblog

Another Language

Monday, February 3, 2014

Merah.

Sebatang bunga itu tak mau merendah
Cukup merah namun belum ranum warnanya
Bunga itu menatap mentari

Merekah
Kemudian melayu saat langit menjadi senja
Daunnya mulai melayu
Walaupun merahnya tetap ranum
Tangkainya masih tegak untuk berdiri
Ditemani duri mawar itu merangkul harapan
Merajut kesederhanaan
Tanpa harus menjadi yang lebih
Tanpa harus bersuara dengan lantangnya

Mentari kemudian masih terus menemani
Sebatang bunga itupun masih menyimpan tanya
Merah, ranum
"Kelopakku masih ranum, apa yang salah denganku?
Tangkaiku masih bisa menopang.
Apa yang salah denganku?
Aku masih berbau, berbau mawar.
Lalu apa yang salah denganku?

Senjapun tiba untuk mengupas satu demi satu.
Kelopak merahku berguguran jatuh.
Tubuhku sudah tak utuh, layu, aku kering.
Duriku sudah melunak, tak sanggup menahan.
Musuhpun datang menghadang.
Sedangkan harapan itu sudah pupus.

Ya. Jatuhkan aku sampai ke tanah.
Patahkan duriku.
Panaskan aku hingga aku layu menjadi debu.
Injak aku, lalu jangan tanyakan lagi keberadaanku!"

No comments: