See myblog

Another Language

Wednesday, April 16, 2014

Edisi dekave

Aku belajar bersyukur.
Untuk saat saat ketika aku terjatuh, hampir rutin.
Hampir dan selalu sering.
Namun aku selalu dikuatkan kembali.

Aku bersyukur untuk penungguan.
Ketika sampai detik terakhir aku belum sanggup mengatur waktuku.
Aku heran dengan detik-detik terakhirku selalu tergesa-gesa.
Aku hampir tak punya waktu untuk menghela nafas.

Aku bersyukur.
Untuk sosok ayah yang memakai jaketnya.
Hari telah malam namun ia menungguku, menemaniku.

Aku bersyukur.
Untuk pelukan seorang teman yang tulus.
Yang mungkin aku masih belajar memeluknya.

Aku bersyukur untuk waktu.
Yang membantuku menjadi lebih dewasa.
Walau aku hanya dan masih sebuah ulat.
Mungkin suatu hari aku akan menjadi kupu-kupu.

Jakarta,
Dkv undercover.

No comments: