See myblog

Another Language

Monday, April 21, 2014

Paskah, ya?

Kali ini sama seperti post aku sebelumnya. Aku mau bagi cerita sedikit tentang sedikit hal.
Tentang apa? Perubahan! *teriakan kecil dengan suara sumbang.

Contohnya, untuk berubah jadi gak pemales dan penunda, aku belajar, mau belajar supaya utamain dulu apa yang penting untuk dikerjain, supaya ujung-ujungnya jadi gak keteteran.
Manusia, temasuk aku dan kamu, pasti hidup diperhidupkan dan dihidupkan karena pilihan, oleh pilihan dan dari pilihan. Semuanya deh serba pilihan. Mau makan aja memilih kan, mau tidur ato melekin mata sampe pol juga pilihan, apalagi soal berubah. 

Soal pilihan, itu juga buatku bicara soal pandangan. Pilihan yang ujung-ujungnya aku dan kamu pilih pastinya pilihan yang menurut kamu dan aku adalah yang terbaik. Nah gimana cara melihat pilihan itu terbaik atau tidak? Balik lagi ke.... Sudut pandang!
Gimana sih kita melihatnya? Dengan kaca mata apa aku melihat sebuah pilihan? Apa yang jadi pedoman aku sehingga aku bisa memandang dan merasa memilih yang terbaik?

Jawabannya ada di hubungan sama sang Pencipta. Gimana hubunganku denganNya sehingga dalam menjalani kehidupan ini aku bisa diyakinkan pilihan itu bukan sekedar pilihanku saja tapi rencana Tuhan nyata dan yang jadi atas hidupku.

Tapi apa daya, aku masih jauh dari sebuah kekokohan untuk terus memelihara hubungan sama sang Pencipta. Coba lihat, kalo baru bangun tidur, boro-boro sempat berdoa, yang ada langsung ngibrit ambil handuk karena aku terbiasa mepet sampai ke zona telat. 
Coba lihat, kalo sampai rumah, yang dilakukan bukannya berdoa, yang ada langsung sibuk sana sini gak karuan ngerjain apa.
Coba lihat, kalo ngecek bbm sempat, sempat sekali, nungguin orang bbm bisa, tapi menyediakan waktu untuk chat sama Tuhan kok berat ya.
Lalu aku mulai bertanya lagi, sebenarnya sudah sampai sejauh mana Tuhan ditempatkan didalam kehidupanku? Apakah hanya sebuah ruang kecil dipojokan hatiku sehingga Dia hanya ada disaat tertentu dalam sehari kehidupan dan kesibukanku?
Apakah Tuhan hanya jadi nyata dan diharapkan ketika masalah begitu berat karena gak sanggup lagi mengandalkan kekuatan sendiri?

Mau berubah, artinya aku mau bersedia Tuhan bentuk. Tuhan renovasi ulang bagian dan sekat sekat dalam hidupku. Sehingga ada kapasitas untuk Tuhan yang jauh lebih besar dari apapun juga, dari orang-orang yang aku cintai setiap harinya, dari hobi dan kegiatan yang aku sukai, dari studi dan pekerjaan yang begitu sibuknya, dari dosa yang sebenarnya menjadi penghalang aku untuk menyediakan tempat yang lebih besar untuk Tuhan.

Perubahan itu harus sekarang, kalo gak kapan lagi?

Jakarta,
Kalo kerennya selamat paskah yang artinya change!

No comments: