See myblog

Another Language

Tuesday, August 26, 2014

Bukannya Membenci Langit

Tidak ada yang sanggup mencintai langit, sebelum ia pernah menatap langit secara langsung. Bayangkan bagaimana mencintai namun kamu hanya bisa mendengar, kata-kata yang terucap bisa direkayasa, kapan terdengar sedih atau senang.

Tidak ada yang sanggup mencintai langit, kalau langit terlihat terlalu tinggi, terasa sebegitu congkaknya sehingga untuk menengok keadaan tanah pun tak mau.

Tidak ada yang sanggup mencintai langit, kalau langit dengan tidak pastinya menebarkan keraguan. Bukannya aku tak menyukai keraguan, bukan juga aku tak menyukai ketidakpastian. Bukan itu. Hanya saja, mungkin langit harus belajar untuk tidak mempermainkan.

Tidak ada yang sanggup mencintai langit, selama ia tidak mau berteman dengan tanah. Tidak ada yang sanggup mencintai langit, sebelum tatapan mempertemukannya dengan tanah. Karena bagiku tatapan itu jujur dan tulus.

Tidak ada yang sanggup mencintai langit.
Maka aku pun tidak.

No comments: