See myblog

Another Language

Thursday, August 28, 2014

Jangan tanya padaku

Sebentar, ia gambarkan dulu kira-kira seperti apa. Ia tidak mengambil pensil, atau menggambar di aplikasi gadgetnya. Ia hanya menutup mata, jarinya membuka ke atas seakan meminta.
"Rasanya hitam seperti gosongan yang tidak rata. Menggumpal disisi kanan dan tidak merata dikirinya."

Ia benci. Rasanya ini muncul setiap bulannya. Rutin seingatku, atau saat aku ingat-ingat ia selalu bercerita tentang perasaan yang muncul. Ia sudah, mencoba menepis, membelokkan atau sengaja mengalihkan dengan yang lain. Namun sayang, katanya apapun yang ia temui, sama. Tetap menyisakan ia, bahkan aku-korban ceritanya- dengan pertanyaan dan menempatkan kita di sana, di lorong yang dingin dan sepi.

Lalu sekarang kupandanginya lekat. Matanya balas menatapku sayu. Aku ingat ia selalu bilang ia benci perasaannya dan pertanyaan. Dan lalu, ingatkah malam itu aku sudah mengucap dalam doa mendoakannya? Dan aku tahu, berapa sering ia mendoakan dirinya juga. Tunggu. Aku pikir-maksudku aku rasa- ini bukan soal perasaan, tapi soal pikirannya. Ah, entahlah rasanya sama saja.

Ia mengeluarkan suara resah, tangannya tak berhenti digerak-gerakan kesana kemari. Kakinya ia goyangkan ke kanan dengan lambat namun berirama, ia goyangkan ke kiri.

Ia berusaha menggambarkan aku dengan ceritanya. Mulutnya memang tak terlalu fasih bercerita, tapi rasanya aku tetap mengerti. Karena mungkin hatinya yang menyampaikan detil ceritanya padaku.

Mungkin ia memohon dengan teriakan dalam hati lalu sampai padaku, segumpal cerita berwarna kelabu, yang coba ia bisikan dengan terbata.

"Apa yang baru mengasingkanmu, apa yang indah memburukkanmu. Apa yang mengagumimu menyudutkanmu, apa yang kamu kagumi menjauh darimu." Ia menatap jalan yang baru saja dirintik oleh hujan.

Lalu lanjutnya, "Apa yang baik akan menjauh dan BOOM! Kamu tetap disana. Dengan perasaanmu sendiri."

Aku mengerti, setidaknya sedikit. "Kamu terlalu penuh."

"Apa maksudmu?"

"Kepalamu."

"Kenapa?"

"Lepas dulu isi kepalamu, tinggalkan sejenak. Mengapa kamu terlalu pusing dengan ini dan itu? Mengapa kamu terlalu pusing tentang dirimu?" Lanjutnya, "Mengapa kamu selalu menengok ke atas, apa kamu ga lelah?"

"Aku tahu, mimpi memang diatas. Ia yang mengarahkan kamu pada tujuan. Tapi lihat, kalau mimpimu mengejarmu dan membayang-bayangi langkahmu, apa itu impianmu?"

Tiba-tiba munculah perasaan ingin menggurui. "Kamu masuk disana. Seperti dalam goa, kamu gelap, bahkan siang yang ceria pun kamu tetap di goa itu. Merasa malam merasa pengap."

"Bahkan kadang kepada Tuhanmu sendiri kamu bersembunyi, lalu kepada siapa kamu akan berterus terang?" Yang ini aku serius, bagaimana kamu mau tenang kalau kamu menjauhi Tuhanmu? Bagaimana kamu mau damai kalau kamu masih suka bermain petak umpat, atau kamu masih suka berlaku sok suci di depan banyak orang."

"Lepaskan lah topengku." Ia menatapku pasrah.

"Aku tak bisa, kamu yang bisa." "Lagipula apa kamu pikir aku tidak memakai topengku? Lihat, luka di pipi kananku ini. Ini tanda aku bertarung dengan diriku sendiriku."

"Kamu sama denganku."

"Aku mau berlari dari kenyataan siapa diriku sebenarnya. Kadang aku terlalu ambisius, kadang aku luntang lantung. Kadang aku yang mencoba menyenangkan banyak orang, sampai lupa menyenangkan diri sendiri. Atau kadang aku terlalu egois, apa yang di kepalaku untuk aku dan aku harus mendapatkannya."

"Kamu lebih parah daripada pikiranku."

"Pikiran itu liar, kawan. Bagaimana kamu mau menjinakkannya? Walaupun kamu pasti tahu pikiran apa yang mengerogoti ketenanganmu sendiri."

"Bagaimana aku tahu, aku dalam pikiranku, atau aku dengan diriku yang sebenarnya atau aku dengan segudang impianku."

Sekarang gantian aku yang dipandanginya lekat. Ia mungkin melihat mataku yang bimbang, sama bimbang seperti matanya. Maaf, kawan. Aku hanya menjadi sok pahlawan seakan tahu ini dan itu. Seakan pantas mengguruimu.

"Mengapa kamu bisa menjelaskan padaku? Lalu ketika aku tanya kamu tidak menjawab?"

Kebimbanganku megusik pandangannya. Ia kembali menatap jalan, lalu dengan tarikan napasnya yang panjang, ia menghilangkan aku.

Tapi aku sempat berkata "Memang cuma kamu yang tahu apa jawabannya." Dan syukurlah, sekilas aku melihat lengkungan senyum dari bibir tipisnya.

No comments: