See myblog

Another Language

Friday, February 6, 2015

Kisah kalian

Menyapa kamu sudah biasa. Bagaimana tidak, jarak kita begitu dekat. Kalau hari hujan kita berdempetan supaya hangat. Atau saat mentari cerah kita saling memanjatkan harapan.

Tidak perlu aku bertanya apa kabarmu, tidak usah. Aku bisa menatapmu sesuka hatiku, memandangimu bahkan sampai kamu tertidur lelap.

Dari sapaan mentari sampai kerlipnya bintang, kamu ada di sampingku. Belum lagi rintik hujan lalu teriknya matahari. Semua, selama dua puluh empat jam aku bersama kamu. Kalau saja ada lebih dari itu, aku pun yakin dua lima atau sampai tiga puluh pun aku bahagia bersama kamu.

Hanya saja. Kalau kita tidak dipertemukan, apakah kamu akan menjumpaiku suatu saat nanti?

Atau kalau kita dipisahkan suatu saat nanti, apakah kamu akan mencariku?

Kamu belum pernah melihat luasnya dunia, aku pun begitu. Aku hanya nyaman dengan rumah, sama halnya dengan kamu. Mendapatkan apa yang disediakan, tidak bebas, tersekap, sepi.

Lalu, aku tanya lagi ya, apa kalau kebebasan itu milikmu, kamu akan memilih bersama aku? Seperti kemarin kita menikmati langit senja sampai nyaman terlelap, atau mengeluh karena hujan tak kunjung berhenti membasahi. Aku hanya berandai-andai. Anggap saja kamu tahu, aku takut kehilangan kamu.