See myblog

Another Language

Tuesday, February 17, 2015

Raindrop

Tidak kah aku pernah tahu? Langit yang gelap tidak selalu membawakan hujan atau tawa yang tampak tidak selalu membawa bahagia.

Sama halnya dengan kabut yang membuat samar. Bukankah kehidupan terlalu sulit untuk digambarkan secara nyata? Ada saja yang bersembunyi seperti masa kanak-kanak dahulu.

Ada saja bagian di mana seberapa usahaku pun aku tetap tidak mengerti. Tidak mampu melihat. Karena embun tidak membiarkan aku memandang lebih lama.

Ada saja saatnya aku tidak mau peduli. Karena percuma saja aku tahu ini dan itu,  maka kubiarkan saja ia tertidur sebagai misteri. Seperti rintik hujan yang membiarkan aku melihat hanya sebagian.

Lalu di balik kaca jendela, tidak kah aku pernah merasakan dingin? Padahal angin tidak menyentuhku, dan hujan tidak mengelilingi. Di balik baju tebalku tetap saja aku tidak nyaman.

Maka, apa gunanya menawarkan senyum atau menaruh tawa, jika aku tidak merasakannya? Karena sepintar-pintarnya embun mengotori kaca jendela mobilku, aku, atau kamu masih bisa mengelapnya.

No comments: