See myblog

Another Language

Tuesday, October 27, 2015

Jalan ke rumah

Rumahku sudah menjadi perhentian banyak cerita, datang dan berpamitan, duduk lalu pergi berdiri. Kapan kamu mau tinggal untuk beristirahat sejenak, jika keesokan harinya kamu akan pergi lagi?

Hari sudah semakin gelap, apakah kamu rindu untuk pulang? Bukankah pintu selalu ada pada tempatnya, dan kaki kita tidak terlalu gemetar dibuatnya? Hanya saja jalanmu menuju rumahku terlalu sulit. Sebuah batu untuk rumahku apakah setangkai ilalang di rumahmu?

Tidak terpikirkah satu dari seribu hari yang menawarkan kesempatan untuk pulang? Di rumah teh yang hangat sudah menantimu di atas meja, air hangat dan handuk sudah bergeletak di tempatnya. Tapi, di manakah kamu? Bukankah rumah pada akhirnya menjadi ujung dari cerita kita? Ya, andai saja, batuku menjadi ilalang di rumahku.

No comments: