See myblog

Another Language

Saturday, October 17, 2015

Joko papaya

Beberapa hari ini sepi tanpamu. Aku masih ingat dengan jelas obrolan santai di sore hari, saat aku besar nanti dan mempunyai rumah, aku ingin punya halaman yang luas. Di sana akan ada kandang burung yang besar, dipenuhi anak dan cicit Joko dan Siti. Joko sudah jadi kakek dan Siti sudah jadi nenek. ❤

Tetapi kecerobohanku dan kelelahanku, membuat Joko pergi. Mungkin kamu memang sudah ingin terbang bebas, angin yang ringan menerbangkan bulu hijau dan merahmu. Tidak apa Joko, aku rela kamu pergi, tapi berjanjilah kamu akan baik-baik saja.

Siti kesepian saat kamu meninggalkan kandang. Dia gelisah dan suaranya memanggil-manggil namamu. Siti sekarang sendirian di kandangnya yang besar.

Bagaimana angkasa, Joko? Apakah begitu birunya? Apakah lelah menerbangkan sayap menempuh jarak yang jauh? Bagaimana caramu mendapatkan air dan makanan? Aku khawatir, Joko.

Mungkin momen itu akan jadi momen terakhirku melihatmu, tapi tahukah, aku akan sangat merindukanmu. Atau maukah kamu mampir ke rumahku untuk sejenak melepas rindu dan mengusir dahaga?

Aku berbohong, aku belum rela kehilanganmu, Joko papaya. Siti apalagi. Tapi, berjanjilah lagi, kamu akan baik-baik saja di luar sana.

No comments: