See myblog

Another Language

Friday, November 20, 2015

Debu yang bersembunyi

Belum sempat kupakai kaos kaki sebelah kanan, aku sudah harus terburu memakai sepatu. Belum sempat kukuncir rambutku, aku sudah harus terburu menuju ke sana. Aku tidak siap, belum siap. Baginya aku seperti ulat yang tidak beranjak dewasa, belum berani menjadi kekompong yang siap mengepakan sayap. Baginya aku seperti selaput bening yang tidak terlihat mata.

Padahal. Aku di sini, aku duduk di depanmu, dengan kaki yang tertutup sepatu dan rambut yang tergerai tidak rapih. 

"Di sini!" "Di sini!"

Tidak seorang pun menoleh, dan tidak ada yang menghiraukan seruanku. Aku akan menjadi debu, bergumul dalam cahaya malam.

Bersatu dengan malam menjadi hitam, tidak dilihat dan terabaikan.

No comments: