See myblog

Another Language

Friday, June 2, 2017

Satu satunya yang kusebut Papa

Teringat ayah.

Yang badannya sudah tidak tegap lagi, rambutnya sedikit dan sudah putih. Papa sering ngeluh kakinya sakit. Papa yang tiap malam mencariku kalau aku belum pulang.

Papa yang selalu ingatkan aku supaya ga tidur malam, rajin olahraga, jangan baca buku dekat-dekat, jangan duduk kelamaan di depan laptop, lampunya diterangin, cari cowok yang benar dan baik.

Kata orang rumah aku anak kesayangan papa. Aku yang suka kelayapan kalau ada hari besar jadi ga bisa ngumpul bersama papa. Aku yang kadang pura pura sibuk jadi banyak alasan untuk ga bantuin papa.

Teringat papa yang hari ini, sehabis rusuh kecil, malam ini papa bilang padaku.
"Papa dagang apa lagi ya." Diusianya yang ke tujuh puluh.
"Pa, papa udah cukup berjuang kok untuk aku, untuk mama dan untuk sekeluarga ini."

Pa, aku udah besar, aku ga mau ini dan itu lagi. Papa udah cukup mendidik dan membesarkan aku.

Aku betul betul ingin membahagiakanmu, melihat papa bahagia karena aku. Papa lihat kami bertiga jadi anak yang berhasil, papa lihat kami jadi anak yang baik, yang sayang sama papa dan mama.

Papa yang sering ditanya, 'Cucunya ya om' kalo lagi jalan sama aku. Pa, aku janji. Aku akan selalu mendoakanmu, dan doakan aku supaya aku bisa membahagiakanmu.

Di pelupuk mataku ada air mata yang mengalir karena percakapan malam ini. Aku mengasihimu pa.

Jakarta,
Rumah.

No comments: